Sudah menjadi rutinitasku sebelum tidur untuk memandangi langit malam. Bintang-bintang yang ada di atas sana menatapku dengan penuh pertanyaan.Ke manakah arahku sekarang? Mungkinkah suatu saat aku juga akan meninggalkan bangunan yang penuh kenangan ini? Aku seperti terjebak dalam labirin yang tidak ada jalan keluarnya.

“Krukk…”, perut ku bersuara membuatku tertawa hambar. Cacing-cacing dalam perutku pasti sudah meronta ronta minta jatahnya. Ntah apa yang kulakukan hingga melupakan haknya.

Dengan terpaksa aku meninggalkan kasur kesayanganku, beranjak mencari makanan cepat saji yang selalu aku sediakan setiap bulan. Aku pun tidak tahu, sejak kapan gaya hidupku ini berubah. Rutinitas dulu sudah lamaku tinggalkan, jam tidur yang tidak lagi teratur, pun makan makanan yang tidak sehat, tapi alhamdulilah masih hidup. Aku masih ingat, dulu bagaimana kerasnya aku menolak semua makanan cepat saji, tapi mungkin sekarang bisa dikatakan inilah makanan sehari-hari ku.
Kuambil dua bungkus mie instan dan juga satu butir telur yang kuletakkan dilemari es. Sementara ku menunggu air mendidih, aku melirik jam dinding yang berada di atas telivisi.
Rumahku cukup simpel, dapur dengan ruang keluarga tidak terdapat penghalang, hanya meja makan yang menghadap ke telivisi dijadikan sebagai pembatas, sehingga saat makan kita pun dapat menikmati siaran televisi. Dan kamarku berada di samping kanan telivisi itu. Sehingga ada jalan ditengah tengahnya sebagai jalan menuju ruangan tamu.

Kulihat arah jarum jam yang masih menunjukkan pukul sepuluh malam. “Belum terlalu larut”, pikir ku. Saat aku kembali fokus menunggu air itu mendidih, samar-samar aku mendengar suara pintu luar dapur seperti seseorang yang tengah mencoba membukanya membuatku sedikit terkejut dan menoleh ke arah pintu itu. Awalnya aku tetap positif thinking, mungkin saja itu kucing. Aku memang memelihara kucing, sudah lama. Tapi, saat aku sadar kucing itu mengeluarkan suara “meong” dengan lembut tapi penuh kecemasan sambil mengelus-eluskan kepalanya di kakiku. Rasa takutku tak bisa lagi kusembunyikan. Jantungku berdebar kencang. Segera ku gendong kucingku itu dan perlahan melangkah mundur tanpa mengalihkan pandanganku dari pintu dapur itu. Sebisa mungkin aku mencoba untuk tidak mengeluarkan suara.

Pintu itu terbuka dengan suara ‘Krekk…’ yang keras dan tajam memecah keheningan. dia melangkah tegas masuk kedalam rumahku.
Aku seketika diam mematung di tempat, memandangi orang itu yang tersenyum, tapi senyuman yang membuatku merasa tidak nyaman. Bulu kudukku berdiri dan jantungku yang berdebar kencang. Aku merasa terjebak dan tidak bisa bergerak seolah olah ada kekuatan misterius yang mengikatku.

Tiba-tiba orang itu berhenti di depanku dan membisik di telingaku dengan suara pelan tapi tegas. “Aku sudah lama menunggu waktu ini. Pintu itu terbuka dengan suara ‘Krekk…’ yang keras dan tajam memecah keheningan. dia melangkah tegas masuk ke dalam rumahku.
Aku seketika diam mematung di tempat, memandangi orang itu yang tersenyum, tapi senyuman yang membuatku merasa tidak nyaman. Bulu kudukku berdiri dan jantungku yang berdebar kencang. Aku merasa terjebak dan tidak bisa bergerak seolah-olah ada kekuatan misterius yang mengikatku.

Tiba-tiba orang itu berhenti di depanku dan membisik di telingaku dengan suara pelan tapi tegas. “Aku sudah lama menunggu waktu ini, Nabila Azzahratul Puspita…”
Sontak, mataku membulat sempurna. Bagaimana dia bisa tahu namaku? Dan waktu? Waktu apa yang dia maksud?
Siapa orang ini? Wajahnya tidak asing, tapi aku lupa di mana aku pernah bertemu dengannya.
Saat kesadaranku tiba, aku berteriak sekencang-kencangnya dan segera berlari, tapi orang itu dengan cepat menangkap ku dan mendekap mulutku.Saat aku memberontak mencoba melepaskan diri, kucing yang kugendong tadi melompat dan berlari mencakar orang itu. Dia memberikanku sebuah cela untuk segera kabur.

Aku tidak tahu harus apa dan bagaimana. Yang aku tahu, aku harus segera pergi di tempat yang tidak aman ini. Aku terus berlari sekencang dan sekuat tenaga yang kubisa hingga aku tiba di depan pintu utama. kusambarnya kunci pintu itu yang tergantung di samping dan dengan tergesa-gesa aku membuka kunci pintu itu. susah payah ku membuahkan hasil, pintu itu terbuka. Dan tanpa kusadari, ternyata air keringatku sudah menetes di pelipisku, mengalir perlahan lahan di pipiku yang sudah pucat, sementara mataku menatap kedepan dengan rasa takut yang mendalam. Akan ke manakah aku?

Pikiranku kosong, aku tidak tahu harus kemana sekarang. Tapi aku harus terus berlari meski tanpa arah karena aku yakin pasti sekarang orang itu sudah lepas dari cakaran kucingku dan mencoba mengejarku.

Aku melihat sebuah jalan menuju tempat yang menurutku aman untuk bersembunyi. Diperjalanan itu ku tepis air mataku dengan kasar, yang sedari tadi aku menahannya. Kenapa aku harus seperti ini? Kenapa mereka tidak pernah mengkhawatirkanku? Kenapa mereka cukup berani meninggalkanku seorang diri? Tidakkah mereka pikir, aku masih terlalu dini untuk ditinggal? Aku terus terusan melawan segala rasa takut dan kegelisahan ku tiap malam. Dan di hari ini pun hal yang kutakutkan terjadi. Aku sungguh tidak seberani dan sekuat yang mereka kira!

Aku terduduk lemas dan tertunduk menahan sesak di dadaku , mungkinkah aku akan menyerah? Mungkinkah orang itu akan segera menangkapku? Aku sudah tidak kuat lagi, tenaga ku sudah habis tapi apakah aku harus menyerah sekarang? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku sampai tertangkap.

Saat kurasa ada air yang membasahi punggungku, aku mencoba mendongak menatap langit yang mulai mengeluarkan airnya seolah olah mengerti akan perasaanku dan aku tak ragu lagi menangis menikmati tiap tetesan air hujan yang membasuh segala kesedihan dan ketakutan ku.
aku merasa air hujan tak lagi membasahiku, hingga aku membuka mata. seseorang telah menatapku dan membagi payungnya.

“Bila….? Ngapain tengah malam gini kamu duduk di jalan?”, tanyanya dengan suara yang tersirat keterkejutan sekaligus khawatir.

Dia Lia tetanggaku, mungkin dia baru pulang dari tempat kerjanya, bisa kuliat stelan pakaiannya yang masing menggunakan baju kantoran dan tato bag di tangan kirinya kerena tangan kanannya memegangi payung yang dia bagi denganku.

Aku hanya diam menatapnya tanpa menjawab pertanyaannya, hingga dia mengulurkan tangannya membantuku untuk berdiri.
Tangisku pecah kembali saat kak Lia memelukku dan menepuk-nepuk bahuku yang bergetar mencoba untuk menenangkanku. Dia bertanya dengan lembut “Hei… apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa sampai seperti ini?”,

Dan lagi, aku tak menjawab pertanyaan nya hingga dia memilih diam dan menuntut ku kerumahnya yang kebetulan berada di depan.

“Jika kamu belum bisa bercerita dengan kakak, tidak apa apa. Kakak tahu kamu masih shock dengan apa yang kamu alami tadi, tapi kamu mau bagaimana sekarang? Mau kakak antar pulang atau bermalam saja disini.”

Dia berhenti sejenak sebelum berkata, “Jujur saja, Bila, kakak khawatir dengan kamu yang selalu memilih tinggal sendiri di rumahmu.Tidak semua orang bisa kita cap baik dan tidak memiliki niat buruk dengan kita. Kakak harap kamu tidak memaksa pulang untuk malam ini.”

Perkataannya membuat pikiranku menjadi kacau, aku tidak tahu harus berbuat apa.Tapi aku merasa bahwa dia peduli padaku dan ingin melindungiku. Aku menatapnya dengan mata yang masih bingung, lalu aku berkata dengan suara lirih “Baiklah… aku akan bermalam di sini, terimakasih sudah menolongku, kak.”
Dia tersenyum dan mengangguk, lalu dia mengajakku ke kamarnya.

Kak Lia tinggal dengan nenek nya, nek Imah. Nek Imahlah yang senantiasa peduli denganku, dia selalu memberiku sayur ataupun lauk lainnya bila ia memasak lebih, ia sering berkunjung kerumahku hanya untuk sekedar melihat keadaanku. Sungguh! aku merasakan kasih sayang seorang nenek darinya meski kami tidak memiliki ikatan darah.

Tentu saja aku tidak bisa memejamkan mata malam ini. Ada sesuatu yang terlupakan.
Aku masih mencoba mengingat dengan Aku menatapnya dengan mata yang masih bingung, lalu aku berkata dengan suara lirih “Baiklah… aku akan bermalam di sini, terima kasih sudah menolongku, kak.”
Dia tersenyum dan mengangguk, lalu dia mengajakku ke kamarnya.

Kak Lia tinggal dengan nenek nya, nek Imah. Nek Imah lah yang senantiasa peduli denganku, dia selalu memberiku sayur ataupun lauk lainnya bila ia memasak lebih, ia sering berkunjung kerumahku hanya untuk sekedar melihat keadaanku. Sungguh! aku merasakan kasih sayang seorang nenek darinya meski kami tidak memiliki ikatan darah.

Tentu saja malam ini aku tidak bisa tidur. Aku masih mencoba mengingat dengan jelas wajah orang itu. Aku yakin pernah bertemu dengannya, tapi dimana? Wajahnya sungguh tidak asing bagiku.

Rasa gelisah dan khawatir yang kurasakan sejak tadi hingga sekarang membuatku tidak dapat memejamkan mata, ini lebih dari soal kejadian tadi, Aku yakin ada suatu hal yang terlupakan tapi apa, aku bingung dan tidak tahu dan tiba tiba…

OH MY GOD! Rumahku, Bagaimana rumahku sekarang?, aku lupa mematikan kompornya!

setelah ku sentil jidat ku dengan sedikit keras, kusibaknya selimut yang menutupi sebagian tubuhku dan dengan tergesa-gesa aku melangkah keluar kamar, tapi ternyata aksiku itu menggangu tidur tenangnya kak Lia.
“Kamu kenapa Bila? mau kemana kamu itu?”, dia bertanya tapi masih dengan memejamkan matanya.

Pertanyaannya menghentikan langkahku, segera ku berbalik dan menjelaskan rasa khawatirku terhadap rumahku

Kami berdua menuju ke rumahku, Nek Imah tidak kami ikut sertakan, meski tadi dia memaksa dengan keras, Tapi mengingat ini sudah tengah malam, dan itu tidak baik untuk kesehatannya.

Di sepanjang perjalanan kak Lia terus mendesakku dengan beribu pertanyaan yang mungkin hanya sepatah dua kata jawaban yang keluar dari bibirku, namun meski responku seperti itu mulutnya tidak berhenti untuk terus mengoceh dan berdoa, semoga semuanya baik baik saja.

Dari jauh nampak sebuah kobaran api yang terang, menerangi gelapnya di tengah malam. Aku menghentikan langkahku, menatap nanar api yang telah membesar itu dengan pikiranyang berkecamuk, ingin sekali rasanya kumenangis tapi itu tidak akan ada gunanya.

Kak liat segera menarik tanganku dan membawaku berlari secepat mungkin.

Saat kami sudah dekat, terlihat sekerumunan warga yang mencoba memadamkan api tersebut. Panik dan heboh sudah pasti di lokasi itu.

“ALHAMDULILLAH… NABILA TIDAK ADA DIDALAM, DIA DISANA DENGAN LIA.” Tunjuk ibu-ibu yang berteriak kencang itu ke arah kami. Sontak membuat sebagian warga mengalihkan perhatiannya.

Aku mendekati kerumunan itu dan berjalan menuju paling depan. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku meskipun semua orang memaksaku untuk menjawab pertanyaan pertanyaan nya. Dan begitupun aku menatap datar rumah yang sudah 70% habis dilahap api, isi hati dan pikiranku hanya aku dan Tuhan yang tahu.

Hilang… semuanya telah hilang.
Kupikir semua ini telah menjadi akhir dari semuanya tapi nyatanya ini adalah awal dari kisah yang akan kujalani

(Visited 35 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *