Oleh: Andi Aiesha Zafirah*

Setiap aku melihat dinding putih itu lagi,
dadaku terasa sesak,
kepalaku juga terasa berputar-putar.

Dari balik kaca penghalang ini,
aku menyelimuti dengan doa.
Doa yang kulafalkan pada pagi, siang, dan malam.

Aku kerap berdoa,
agar kamu bisa tersenyum bebas lagi.
Namun saat ini,
kamu mengingat namaku saja sudah terasa cukup.

Andai saja aku sedikit lebih tua,
pasti aku akan menjagamu,
dari saat sang fajar menyapa,
hingga langit membiru kembali.
Menjagamu sebagaimana kau menjagaku dulu.

Aku tahu, suatu saat,
dia akan pergi.
Aku juga berjanji,
bahwa aku akan rela.
Namun, jangan hari ini.

Watansoppeng, 2 April 2025

*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng, KelasIX.1

(Visited 20 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *