Katanya akan selalu ada pelangi sehabis hujan,
Padahal tak melulu demikian.

Dewasa ini, orang marak angkat bicara perkara mencari arti hidup. Muda mudi tersengal-sengal Kesulitan menghirup udara segar, seakan telah lanjut usia padahal baru saja memasuki epilog fase remaja

Para pujangga mati-matian berusaha meromantisasi hal-hal kecil di keseharian, mungkin hendak meluncur memaknai kehadiran manusia di muka bumi,
meminimalisir kemungkinan hidup terlanjur jadi redup.
Entahlah makna seperti apa yang hendak dicari-cari

Sastrawati berkontradiksi mengenai fiksi,
Mengulik berbagai lapisan polemik
Menyulapnya menjadi goresan tinta yang ciamik

Kadang kala orang-orang menjelma penakut,
Seakan menitikberatkan logika dalam pemecahan masalah kemudian acuh tak acuh dengan hati nurani mereka padahal keduanya sewajarnya saling bertaut
Akan sukar mendefinisikan kata per kata dan makna per makna, dari tiap-tiap suara, teriakan, dan gema yang begitu rumit. Dari berbagai penjuru dan seluruh isi kepala yang bergemuruh riuh.

Tetapi tidak, tidak sepatutnya berlindung di balik tameng kesukaran itu, tetaplah berkelana dan jadilah bermakna.

— 23 Juli 2023
*Penulis adalah Siswi SMAN 8 Soppeng

(Visited 30 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Nur Aqilah Salim

Aku biasa dipanggil Qilaa. Lengkapnya Nur Aqilah Salim. Bergabung di Pena Anak Indonesia sejak 25 September 2021 dengan tulisan pertamaku sebuah sajak berjudul “Sandiwara”. Berawal dari menuliskan yang tak terlisankan, hingga akhirnya pada awal tahun 2022 kumpulan goresan penaku dan teman-teman dibukukan, menjadi buku pertama kami yang saat itu masih berstatus pelajar di SMPN 1 Watansoppeng. Sekarang aku sedang menikmati hiruk pikuk organisasi di SMAN 8 Soppeng! Jika ditanya apa hal yang dapat membuatku kecewa, jawabnya adalah semua energi negatif dari segala perilaku tega manusia di muka bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *