Setelah menjauh dari asrama putri, Dion memasukkan kembali kalung yang ia pegang ke dalam kantong celananya. Di tengah perjalanan menuju asrama putra, Dion dan Reski melewati lapangan basket yang sedang ramai dengan siswa-siswi yang menonton pertandingan basket.

Dion berhenti sejenak untuk menonton pertandingan basket tersebut. Mereka berdua menyaksikan pertandingan dari kejauhan.

“Kamu mau ikut main?” tanya Reski.

“Gak dulu deh, besok aja. Aku ngantuk,” balas Dion.

“Udah sebentar aja yuk,” ucap Reski sambil menarik lengan Dion menuju lapangan.

“Za. Reza!” teriak Reski memanggil Reza yang sedang bermain basket.

Mendengar namanya dipanggil, pria tampan dan tinggi itu melihat sekeliling untuk mencari sumber suara. Tak lama kemudian, Reza melihat Reski yang berada di tepi lapangan.

Reza memberikan bola basket yang sedang dipegangnya ke Bayu yang berada di sampingnya, lalu berlari kecil mendekati Reski.

“Ada apa, Res?” tanya Reza.

“Kami mau ikut gabung juga nih,” ucap Reski.

“Boleh. Ngomong-ngomong, dia siapa?” tanya Reza.

“Saya Dion, murid baru di sini dan teman Reski,” ucap Dion.

“Oh, aku Reza. Kalau gitu ayo main,” ucap Reza.

“Tapi, Res, bagaimana ini?” tanya Dion sambil menunjuk kopernya.

“Taruh saja dulu di situ,” ucap Reski sambil menarik lengan Dion.

Beberapa saat kemudian, mereka bermain. Reski dan Dion berada di tim yang berbeda karena keduanya merupakan ketua tim basket. Dion memakai kaos tim yang diberikan oleh Reza, lalu mereka mulai bermain.

Saat pertandingan dimulai, para penonton saling berbisik-bisik karena melihat Dion yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

“Eh, lihat deh, cowok itu siapa ya?” ucap seorang gadis cantik bernama Lina pada sahabatnya, Enjel.

“Gak tau juga. Aku baru lihat dia,” balas Enjel.

Selang beberapa saat bermain, sorak-sorai penonton semakin keras ketika melihat keterampilan Dion bermain basket. Dengan melihat keterampilannya, Reza memberi pujian kepada Dion.

“Wah, bro. Jago juga kau main,” puji Reza.

“Bisa aja, kau juga hebat, cocok banget jadi ketua tim,” balas Dion sambil memuji Reza.

Buliran keringat menetes dari dahi mereka yang berkeringat karena intensitas permainan .merasa terganggu dengan itu keringat yang menetes ke wajahnya, Dion refleks mengibaskan rambutnya, membuat para penonton wanita berteriak karena pesona yang di tunjukkan Dion.

Berita tentang kemunculan Dion bermain basket telah tersebar di grup WhatsApp para penonton, sehingga semakin banyak orang yang hadir ke lapangan, terutama wanita, untuk melihat calon primadona baru.

Di sisi lain, Dara dan Diana sedang berjalan-jalan mengelilingi halaman sekolah dan melihat para siswa-siswi berbondong-bondong menuju lapangan. Karena penasaran, Dara menanyai salah satu dari mereka.

“Eh, kalian kenapa? Buru-buru banget?” tanya Dara.

“Kamu belum tahu, Dar? Ada cowok ganteng yang sedang main basket di lapangan,” ucap Siska.

“Palingan juga si Reza dan si Bayu,” ucap Dara.

“Bukan, Dar. Kayaknya dia siswa baru deh,” ucap Siska.

“Oh iya, dia siapa?” tanya Siska.

“Aku Diana, teman Dara. Aku siswa baru,” sapa Diana.

“Aku Siska. Aku ke lapangan dulu ya,” ucap Siska sambil meninggalkan mereka berdua.”Jangan-jangan yang main basket itu bang Dion lagi,” ucap Diana.

“Mungkin sih. Kesana yuk, udah lama gak liat Dion main basket,” ucap Dara.

Mereka berdua pun berjalan menuju lapangan. Sesampainya di sana, Dara sedikit terkejut karena lapangan basket sangat ramai dan penontonnya lebih banyak dari biasanya.

“Penontonnya banyak juga. Mau nonton di mana ya kita?” ucap Dara sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat yang bagus. Tak lama, pandangannya tertuju pada sebuah koper yang berada di sudut lapangan, sehingga mereka menuju ke sana.

“Ini kan koper bang Dion,” ucap Diana.

“Pasti bang Reski nih yang maksa bang Dion main basket,” sambung Diana.

“Yah, begitulah abangku. Nyusahin orangnya.”

Waktu berlalu dengan sangat cepat, sehingga mereka tidak menyadari sudah pukul berapa saat ini. Setelah bermain beberapa babak, mereka mulai menyadari bahwa sudah hampir sore dan mereka memutuskan untuk mengakhiri pertandingannya.

“Wah, tadi itu permainan yang bagus, Dion,” puji Reza.”Makasih, Reza. Udah lama aku gak main basket,” ucap Dion.

“Gimana, Reza? Jago kan dia?” tanya Reski sambil merangkul pundak Dion.

“Tadi itu keren banget, Ki. Pokoknya seru banget,” ucap Reza.

“Oh iya, udah sore nih. Kami berdua ke asrama dulu ya,” ucap Reski.

“Bajunya besok ku kembalikan ya,” ucap Dion.

“Oke,” balas Reza lalu pergi dan menghampiri pemain lain.

Dion mengelap wajahnya dengan kaos yang ia kenakan sehingga menampakkan tubuhnya yang atletis dengan perut six-pack yang membuat penonton wanita berteriak dengan keras.

Melihat kejadian itu, Diana lalu berlari ke arah Dion dan menariknya dari sana.

“Ih. Gak boleh gitu bang” ucap Diana.

“Kenapa sih dek?” Tanya Dion.

“Astaga, bang, kasian tuh anak orang,” ucap Diana.

“Oh iya ya. Maafin Abang, oh iya koper kamu udah di asrama putri ya. Kalian berdua balik ke asrama sana,” ucap Dion.

“Oke, bang,” ucap Diana.

“Kalau gitu, Abang sama Reski ke asrama ya,” ucap Dion sambil menarik kopernya dan berlalu bersama Reski menuju asrama.

Setelah Dion pergi, beberapa siswi menghampiri Dara dan Diana lalu mengajukan berbagai macam pertanyaan yang berhubungan dengan Dion.

“Udah ya, kami mau kembali ke kamar. Besok juga kalian lihat sendiri,” ucap Dara sambil menarik lengan Diana dari kerumunan.

Di sisi lain, Dion dan Reski sudah dekat dengan asrama, bahkan bangunannya sudah terlihat. Namun, Dion tiba-tiba meraih kalung di saku celananya lalu menggenggamnya. Tak lama setelah itu, Dion merasa mual dan berhenti sejenak, terduduk di tanah sambil memegang perutnya. Melihat itu, Reski sedikit panik lalu bertanya,

“Dion, kau kenapa? Hey, kau kenapa, we? Jangan bercanda,” ucap Reski sambil memegang pundak Dion.

Dion hanya mampu menjawab dengan mual yang masih dirasakannya.

Tak jauh dari sana, sepasang mata kembali memandang ke arah Dion dan Reski dari jendela loteng di asrama putra.

(Visited 16 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *