10 tahun kemudian

Seorang pemuda tampan keluar dari kamarnya menuju ke dapur diikuti oleh seorang gadis cantik dari kamar sebelah.

“Kalian sudah bangun. Duduk sini, sarapan sudah siap,” sambut Sarah, seorang wanita paruh baya, ketika melihat keduanya masuk ke dapur.

Mereka berdua menarik kursi dan duduk. Di meja makan, seorang pria paruh baya bernama Devan duduk sambil membaca koran.

“Ayah sudah mendaftarkan kalian di SMA Nusa Bintara. Siang nanti Ayah akan mengantar kalian,” ucap Devan.

“Iya Yah,” jawab Dion.

“Kalian makan ya, ingat di sana harus saling jaga,” ucap Sarah.

“Iya Bu, Dion pasti akan menjaga Diana,” ucap Dion.

Setelah sarapan, Dion dan Diana kembali ke kamar mereka untuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa karena mereka akan tinggal di asrama sekolah.

Tak terasa, waktu pun berlalu. Dion dan Diana memasukkan koper mereka ke bagasi mobil.Sebelum berangkat, Sarah memberikan pesan kepada kedua anaknya.

“Ingat, kalian harus saling menjaga, jika ada masalah, hubungi ibu atau ayah,” pesan Sarah.

“Iya Bu, jangan khawatir. Kami akan aman,” ucap Dion.

“Diana, dengarkan kata-kata abangmu, jangan nakal,” tambah ibunya.

“Iya Bu, saya akan mendengarkan kata-kata bang Dion,” jawab Diana.

Setelah itu, Devan mengantar mereka berdua menuju SMA Nusa Bintara. Ketika sampai di sana, Devan turun dari mobil dan bersama kedua anaknya, Dion dan Diana, menuju kantor kepala sekolah sambil menarik koper masing-masing. Karena sistem asrama, banyak siswa yang masih berkeliaran di sekitar sekolah.

Wajah tampan Dion dan wajah cantik Diana menarik perhatian banyak siswa yang melihat mereka. Merasakan hal tersebut, Dion agak risih, terutama ketika siswa-siswa lain menatap adiknya, Diana.

Dion merangkul Diana dan menatap tajam ke arah kelompok pemuda yang menatap adiknya.Tak lama setelah itu, mereka tiba di depan ruangan kepala sekolah SMA Nusa Bintara.

*Ketuk, ketuk, ketuk*

“Iya, silakan masuk,” ucap seseorang di dalam ruangan.

Devan memutar gagang pintu dan membukanya perlahan. Di dalam, terlihat seorang pria paruh baya duduk di sebuah kursi, fokus pada layar komputernya.

“Sepertinya Anda sedang sibuk, Hendra,” ucap Devan.

“Eh, Van. Mengapa tidak memberi tahu saya kalau akan datang?” kata Hendra, mendekati Devan.

“Ayo, silakan duduk,” tambah Hendra.

“Dion, kamu semakin gagah, ya. Diana juga semakin cantik. Sudah hampir 5 tahun om tidak melihat kalian,” ujar Hendra.

“Om bisa aja mujinya ,” balas Dion.

*Brakk* (suara pintu dibuka dengan keras)

“Diana, akhirnya kamu datang. Aku merindukanmu,” kata seorang gadis cantik yang baru saja membanting pintu.

“Astaga, Dara. Kalem dikit napa?” ucap seorang lelaki tampan yang ikut masuk ke dalam ruangan.

“Biarin. Diana, aku merindukanmu,” ucap Dara sambil memeluk Diana.

“Aku juga merindukanmu, Dar,” balas Diana.

“Ikutlah denganku, kita keliling sekolah,” ajak Dara.

“Tapi…” ucap Diana ragu.

“Kamu ikut saja bersama Dara. Nanti kopernya biar Abang yang membawanya,” ucap Dion.

“Nah, bang, dengarkan tuh bang Dion. Perhatian terhadap Diana, lah, bang Reski cuek amat,” cibir Dara.

“Biarin,” ucap Reski.

“Yuk, Diana, kita tinggalkan ruangan ini. Aku merasa sumpek berada di satu ruangan dengan manusia cuek seperti ini,” ucap Dara sambil menarik lengan Diana keluar dari ruangan.

“Dasar kekanak-kanakan,” ucap Reski.

“Sudahlah, Ki. Mungkin Dara lagi dalam masa imut-imutnya,” ucap Dion.

“Ih, najis,” ucap Reski.

“Sepertinya gak ada masalah, ya. Aku titip Dion dan Diana di sini,” ucap Devan.

“Tenang, om. Kami akan menjaga mereka kok,” ucap Reski.

“Ayah gak usah khawatir, kami aman kok,” ucap Dion.

“Kalau begitu, ayah pulang dulu. Sampai ketemu lagi, Hendra,” ucap Devan.

“Iya, Van. Soal anak-anak, serahkan kepadaku,” ucap Hendra.

Setelah Devan kembali ke mobil dan melaju pulang ke rumahnya, Dion dan Reski menuju asrama putri dengan membawa koper milik Diana. Mereka berdua bercanda sambil berjalan, dan saat sampai di asrama putri, Dion tiba-tiba berhenti, mengeluarkan sebuah kalung dari kantung celananya, dan menggenggamnya erat.

“Ada apa?” tanya Reski.

“Tidak apa-apa” jawab Dion.

Karena ini asrama putri, koper Diana dititipkan kepada petugas penjaga asrama untuk diantarkan ke kamar Dara. Setelah itu, Dion dan Reski melanjutkan perjalanan menuju asrama putra. Namun, mereka tidak menyadari sepasang mata yang mengawasi dari jendela loteng asrama putri. Dion merasakan sesuatu dan menggenggam kalungnya erat sebelum bergegas meninggalkan tempat tersebut.

(Visited 20 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *