Oleh: Madeline Cinta Fitriadi*
Ini untukmu, yang selalu berjalan walau banyak rintangan. Apa yang sedang kau pikirkan?. Untuk saat ini, ku minta hilangkan semua pikiran yang mengganggu waktu tidurmu. Lupakan semua masalah yang menunda istirahatmu. Kita hadir disini untuk saling merangkul dan bergandeng tangan melewati sebuah lautan, namun bukan air. Ibaratkan sebuah masalah yang mengejarmu bagaikan ombak pantai, kita adalah deburan pasir yang ikut terhempas bersama dengan arah angin.
Untukmu, butiran air laut yang akan menguap membentuk awan gelap. Aku menitipkan pesan yang tak sempat diucapkan angin kepadamu dan menjadikannya hujan. ”Jangan menjatuhkan diri di atas laut” metafora ia berkata. Maksudnya, jangan menambah masalah yang ujung-ujungnya akan menimpa dirimu sendiri dengan kesalahan yang sama. Sontak ia mengabaikan pesanku dan terus mengikuti arus. Kejadian yang sama sempat terulang beberapa kali dalam waktu dekat ini.
Sekelompok burung melihat pemandangan itu ketika mereka mengitari lautan. ”Membosankan” katanya untuk menggambarkan keadaan laut untuk saat ini. Mereka berkicau tanda menyeru, tapi tak ada balasan dari laut yang sedang asik dengan dunianya. Singkat cerita, burung-burung pun pergi tanda kecewa. Tak tahu lagi dengan cara apa aku harus menyadarkan suatu siklus yang sedang berjalan. Memang sulit untuk menghentikannya karena mungkin sudah menjadi kebiasaan. Tapi ingatlah pesanku untuk kita semua,”Jangan pernah pulang sebelum waktunya”. Maksudku, tetaplah bertahan walau sesulit apa pun keadaan.
Tak lelahkah engkau mengulanginya? Aku harap kau sedikit membuka diri untuk menerima saran dan kritik dari orang lain. Karena hidup tak hanya tentang duniamu, tetapi juga menyangkut orang orang di sekitarmu. Penilaian, cara pikir, dan pandangan mereka cukup berpengaruh terhadap hidupmu.
Kita hidup bersama dalam sebuah kanvas yang dinamakan dunia. Melukis indah pengalaman yang kita alami dengan kuas yang menciptakan beraneka warna. Jangan biarkan itu bertukar fungsi menjadi sebuah lukisan abstrak yang sulit untuk dimengerti. Jadilah kata baku dalam suatu kalimat agar mudah dimengerti semua orang, dan jadilah warna yang disukai oleh semua orang.
Tak bosan aku kan selalu mengingatkanmu. Carilah tempat di mana dirimu bisa diterima. Aku berlari menuju pantai yang sebentar lagi akan surut. Aku mengejar ketika ia sedang mundur dari perjuangannya. Ia lari dari masalah dan pasrah ketika aku maju untuk melangkah. Kukira ia sedang menyerah, tetapi aku salah. Ia hanya lelah. Tak bisa disalahkan jika ia mundur untuk memberi sedikit kekuatan pada surut yang sedang ia lakukan. Air laut kemudian mulai maju menuju tepian pantai yang menjadi labuhan tempat ia beristirahat.
”Ini diriku” katanya padaku. ”Aku adalah sebuah laut yang senantiasa mengejar pantai, namun tak kunjung mendapat balasan. Aku memang lelah, tapi bukan menyerah. Aku belajar dari kepingan pasir yang tak marah bila aku membasahinya dengan menghempaskan diri menuju tepian pantai.” Di sisi lain angin turut berkata, ”Wahai laut, apakah engkau marah ketika aku membawa arusmu menuju daratan?
” Tidak, aku merasa terbantu karena angin segera membawaku kepada tepian”, katanya. “Itulah gambaran dari pelajaran yang baru saja kau dapatkan dari butiran pasir itu”. Begitu angin, laut, dan pasir memainkan mutualisme mereka dalam suatu kepentingan yang berbeda beda.
Apakah kamu belum cukup mengerti? Sedikit lagi kujelaskan, bahwa kita hidup berdampingan dengan orang lain. Saring semua perkataan yang mereka salurkan kepadamu dan lakukan yang menurutmu membuahkan keuntungan. Lelah boleh, asalkan tidak menyerah. Bertahanlah walau sesulit apa pun keadaan.
*Penulis adalah siswi SMAN 1 Nan Sabaris, Padang
