Oleh: Madeline Cinta Fitriadi

Sudut ruangan menjadi tempat ternyaman sebagai pengganti sandaran atas bahu yang tak lagi tersedia. Miringkan kepalamu, tumpahkan rasa sakit pada dinding yang dirasa sanggup untuk menerima seluruh luka yang kau rasa. Istirahatkan dirimu dari segala pikiran yang mengganggu tidur lelapmu. Lelah menjadi bukti dari perjuanganmu yang bisa kubilang sia-sia. Ini dunia, tempat kita mengisi hari-hari dengan semua warna yang kita punya. Membuat pola pembentukan, kemudian menambahkan warna sebagai penanda dari suatu peristiwa.

Kali ini aku bercerita di kala langit enggan menyapa dunia. Gelap, sunyi, sepi menyatu dalam latar waktu dan suasana belaka. Banyak hal yang dapat kuartikan padamu, sang nabastala. Namun, kisah ini yang paling berkesan dalam artian penuh makna dan rasa sesak yang sampai sekarang masih kurasa.

Pukul 23.36 WIB, 27 Agustus 2023, aku menuliskan ini dalam keadaan sepi. Tak ada siapa-siapa untuk mendengar cerita yang terbilang membosankan bila didengar. Tetapi tidak bagi orang yang tepat. Aku mencoba tidur, tak menemukan hal lain yang bisa dilakukan. Kuurungkan niatku ketika langit membasahi kota. Teringat akan pikiran hampa yang selalu membayang ketika hujan menjadi teman. ”Maukah kau mendengar kisah piluku, hujan?” Bersama langit, aku meneteskan air mata.

Aku membuka jendela, hanya terdengar bisikan angin yang senada dengan jatuhnya air hujan. Rumah para penghuni kota sudah sepi ditinggal tidur oleh pemiliknya. Hanya tersisa lampu tidur yang masih menyala. Tak apa, meskipun demikian, aku takkan menutup kisah ini begitu saja. Masih ada kita kan?.

Effort”. Apa yang kau pikirkan ketika kata itu terdengar olehmu?.Aku mendefinisikannya sebagai ‘perjuangan’. Bagaimana cara kita memperjuangkan sesuatu, apa yang kita korbankan untuk menggapainya, dan mengapa kita melakukannya. 3 pertanyaan itu sudah cukup untuk membuat seseorang mengerti apa arti dari sebuah perjuangan.

Kau tahu rasanya diabaikan? Begitu yang kurasa saat kata perjuangan terbuang sia-sia. Telah banyak yang kulakukan demi mendapatkannya, namun ternyata orang lama masih menjadi sang pemenang. Ribuan pengganti telah kulihat berbanjar rapi untuk menggantikan posisi yang telah hilang. Tak satu pun dari mereka lolos dalam seleksi ini, dan aku salah satunya. Banyak hati yang patah, tentu. Kukira tugasku hanya menggantikan posisi sebagai peran saja, ternyata salah. Aku harus berbuat hal besar yang terlihat kecil di mata sang empu hingga bisa disebut sebagai pengorbanan.

Apalagi yang kurang? Aku melihat diriku pada genangan air di tepi kota ketika hujan telah reda. Jawabannya sudah kudapat. Di samping perjalanan panjang, pengorbanan yang besar, dan keinginan yang kuat, ternyata juga memerlukan wajah yang cantik. Insecure ini tak akan pernah bisa hilang jika perlakuan dunia tetap begini kepadaku. Di mana lagi tempatku bisa merasakan hal yang sama dengan orang beruntung di luar sana. ”Harus sempurna, ya?” Tak ada ruang untuk orang jelek di dunia inikah?. Pertanyaan yang muncul membuatku semakin terpuruk oleh pikiran yang buruk.

Sekian lama kulalui hari-hari dengan penuh rendah diri. Aku salah jalur ya? Semakin dewasa, aku semakin berpikiran beda dengan sebelumnya. Ralat dalam kalimat ”Tak ada ruang untuk orang jelek di dunia ini kah?” Ku kira cantik itu hanya dari wajah saja. Cantik itu diri. Tutur bahasa yang lembut, perilaku yang sopan, serta positive vibes juga merupakan definisi cantik. Cantik itu bonus bagi orang-orang yang pandai mengartikannya. Persoalan ditolak? mungkin itu bukan tempatku. Bukan salahku bila perjuanganku sia-sia, karena ”ruanganmu masih berpenghuni, tuan”. Tak akan ada penggantinya jika orang lama masih diharapkan kehadirannya. Mulai sekarang, jangan mengejar sesuatu yang tak pasti. Carilah tempat di mana dirimu bisa diterima dengan baik. Jalani hari-harimu dengan tenang tanpa gangguan. Karena kamu cantik dengan versimu sendiri.

*Penulis adalah Siswi SMAN 1 Nan Sabaris, Padang

(Visited 44 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *