“Gorengan… gorengann.. masih hangat…., gorengannya bu, pak,” teriak Zahra gadis remaja berusia 16 tahun menawarkan dagangannya dengan ramah.
“Gorengan… gorengan…”
“Dek… dek… itu bakwannya masih hangat yah?” teriak seorang wanita menghampiri Zahra.
“Ehh iya kak,” jawab Zahra.
“Bakwannya harga berapa yah dek? selain bakwan kamu jual apa lagi?”
“1000/1 kak, waduh kalau sekarang sisa bakwan kak,” jawab Zahra tersenyum ramah.
“Ya sudah saya beli semua gorengan kamu yah? Semuanya berapa?” kata wanita itu memborong dagangan Zahra.
“Wahh Alhamdulillah . Semuanya 30 ribu kak,” Kata Zahra dengan mata berbinar. Dia dengan semangat memasukkan semua gorengannya ke dalam kantongan plastik untuk diberikan kepada seorang wanita yang memborong semua gorengannya.
“Ini uangnya dek,” Kata wanita itu dengan menyodorkan uang 10 ribu 3 lembar kepada Zahra
“Terima kasih ya kak, semoga kakak diberikan rezeki yang melimpah oleh Allah,” Doa Zahra untuk wanita itu.
“Sama-sama dek. Aamiin… Mari dek, kakak pulang dulu,” kata dia dengan senyum yang ramah.
“Iya kak, sekali lagi terima kasih yah…”
“Akhirnya semuanya laku, Alhamdulillah terima kasih ya Allah, aku jadi bisa cepat-cepat pulang deh. Bapak pasti belum pulang, mendingan aku ke pasar dulu, terus pulang masakin bapak makanan yang enak,” kata Zahra tersenyum bahagia sambil membereskan tempat gorengannya yang sudah kosong.
Adiba Zahra, gadis berusia 16 tahun yang harus menjual gorengan keliling kampung untuk membantu ayahnya. Yaa, sekarang dia hanya hidup berdua dengan ayahnya setelah ibunya memilih untuk meninggalkan ayahnya karena masalah ekonomi saat dia masih berusia 8 bulan. Ayahnya berjuang membesarkannya seorang diri dengan berperan menjadi 2 sosok sekaligus, yaitu sosok ayah dan ibu untuknya. Zahra tidak pernah merasa kekurangan apa pun sekalipun kasih sayang seorang ibu, karena itulah Zahra sangat menyayangi ayahnya lebih dari hidupnya. Namun, sekarang ia harus menjual gorengan untuk membantu ayahnya walaupun dilarang keras, ia tetap bersikukuh untuk berjualan demi membantu sang ayah. Sang ayah hanya bekerja sebagai buruh bangunan yang digaji 40 ribu perhari.
“Assalamualaikum,” terdengar suara ayahnya perlahan membuka pintu.
“Waalaikumsalam, bapak udah pulang?” jawab Zahra mencium tangan ayahnya.
“Iya nak, gimana dagangan kamu, laku semua gak?”
“Alhamdulillah pak, oh iya sekarang bapak mandi dulu, aku udah masak makanan kesukaan bapak,” kata Zahra dengan memamerkan senyumnya yang paling manis untuk cinta pertamanya.
“Wah wah anak gadis bapak yang cantik ini rajin sekali,” kata ayahnya mengelus kepala Zahra yang dibaluti jilbab panjang berwarna hitam. Beliau sangat bersyukur memiliki anak seperti Zahra yang mandiri.
Setelah mandi, ayahnya langsung menyantap masakan Zahra dengan lahap.
“Masakan anak bapak enak banget, bapak jadi mau nambah,” puji Ayah Zahra dengan penuh kelembutan.
“Iya dong ,anaknya bapak Hermawan gitu loh, hehe…” Ucapnya bangga sambil menepuk dadanya..
“Loh kamu kok gak makan nak?” Dengan kening mengkerut karena melihat Zahra tidak menyutuh makanannya sedikit pun.
“Zahra gak lapar pak, oh iya, aku ke kamar dulu ya pak, mau belajar,” Pamit Zahra ketika selesai membersihkan tempat ayahnya makan.
“Iya nak, belajar yang rajin ya, agar impian kamu bisa terwujud..!” Kata ayahnya sambil mengelus kepala Zahra dengan penuh sayang.
“Siap boss!” Kata Zahra sambil meletakkan tangannya di depan kening layaknya orang hormat bendera.
Keesokan harinya Zahra di antar ke sekolah oleh ayahnya menggunakan sepeda tua yang merupakan kendaraan satu-satunya yang mereka punya.
“Oke sampai,” kata ayah Zahra menghentikan langkah sepedanya.
“Yeaa makasih pak, Zahra masuk dulu ya. bapak hati-hati di jalan,” kata Zahra mencium tangan ayahnya.
“Iya nak, belajar yang rajin nanti pulang sekolah kamu hati-hati ya! Harus bisa jaga diri!” Pesan ayah Zahra kepada anak gadis satu-satunya.
“Siap pak! dahhh…” Zahra melambaikan tangan ke arah bapaknya yang mengayuh sepeda ke arah tempatnya bekerja.
Lokasi tempat ayah Zahra bekerja tidak terlalu jauh dari sekolah karena itulah setiap hari Zahra diantar oleh ayahnya. Hari ini Zahra merasa resah tidak seperti hari-hari biasanya, sebelum berangkat wajah ayahnya begitu berseri dan membuat hatinya gelisah, entah apa yang akan terjadi. Perasaannya berlanjut saat ia sampai di depan pintu kelas. Wajah ayahnya yang tersenyum sambil mengayuh sepeda terus menghampiri pikirannya, hingga ia tidak sadar kalau bu Dewi, guru mapel biologi yang menjadi guru inspirasi Zahra di sekolah, sedang berdiri di dekatnya berniat untuk memasuki ruangan kelas namun langkahnya terhenti ketika melihat Zahra melamun di depan pintu kelas.
“Zahra,” ucap bu Dewi membuyarkan lamunan Zahra.
“Ehh iya bu ada apa ya?” Zahra terlonjat kaget..
“Emm kok kamu melamun di depan pintu? nanti kesambet loh, hehe,” kata ibu Dewi membalas pertanyaan Zahra dengan pertanyaan.
“Heheh nggak kok bu,” jawab Zahra malu.
“Kok kamu gelisah gitu? ada masalah yah? Coba nanti kalau jam istirahat kamu cerita sama ibu,” kata ibu Dewi memegang pundak Zahra.
“Saya gak papa kok bu,”
“Ya sudah ayo masuk!”
“Iya bu,”
Ketika pelajaran sedang berlangsung, tiba-tiba jantung Zahra berdetak lebih cepat dari biasanya seakan sedang mendapat musibah, air matanya menetes tanpa sebab yang pasti.
“Bapak,” kata pertama yang terucap dari bibir Zahra pikirannya mulai menjadi-jadi, tangannya keringat dingin.
“Assalamualaikum,” terdengar suara wanita paruh baya mengetuk pintu kelas.
“Waalaikumsalam iya bu?” jawab ibu Dewi menghampiri wanita tersebut.
Mata Zahra tertuju pada wanita tersebut. Matanya tampak berkaca-kaca. Ia memegang dadanya untuk tetap dalam kondisi stabil. Wajah ibu Dewi tampak berubah setelah mendengar ucapan wanita paruh baya tersebut. Ia berbalik dan menatap Zahra dengan tatapan yang penuh iba. Perlahan ibu Dewi menghampirinya. Zahra tak kuasa lagi membendung butiran-butiran bening yang meluncur dari kelopak matanya.
“Zahra, kamu tetap tenang yah! Jangan panik dulu!,” kata bu Dewi memegang pundak Zahra.
“Ada apa ya bu? perasaan saya gak enak,” kata Zahra dengan wajah yang penuh cemas.
“Kata ibu itu ada korban tabrak lari di perempatan yang tidak jauh dari sekolah, dia mengendarai sepeda dan dia bilang ke warga kalau ada anaknya yang sekolah di sini . Sekarang kondisinya kritis, tapi tidak mau dibawa ke rumah sakit. Katanya dia mau tunggu anaknya datang dulu,” kata ibu Dewi yang begitu berat mangucapkan kalimat itu di depan Zahra.
“Maksud ibu? ibu kira itu bapaknya Zahra yah? Bukan bu, gak mungkin itu bapaknya Zahra. Bapak sekarang lagi kerja. Zahra mau tetap di sini belajar sesuai dengan permintaan bapak, kalau Zahra gak boleh ketinggalan mata pelajaran apa pun,” jawab Zahra yang berubah emosional seakan menolak realita.
“Bukan gitu maksud ibu, ibu juga berharap itu bukan bapaknya Zahra, tapi kita kesana dulu ya, untuk memastikan dugaan kita, kamu mau kan ibu temani untuk melihat dia dulu?” Bujuk ibu Dewi dengan sangat hati-hati karena dia tahu kalo ini sangat berat untuk Zahra terima.
“Ya udah deh, tapi Zahra yakin itu pasti bukan bapak,” jawab Zahra menghapus air matanya yang sedari tadi membasahi pipinya. Di setiap langkah Zahra penuh dengan doa dan harapan bahwa itu bukan lah bapaknya.
Namun, Ketika sampai di tempat tersebut, alangkah terkejutnya Zahra melihat tubuh yang sangat dikenalnya terbaring lemas di aspal berlumuran darah. Napasnya begitu berat, jantungnya berdetak begitu pelan, sesekali ia membuka matanya untuk memastikan apakah anaknya sudah datang atau belum.
“Bapaaaaak…” teriak Zahra menghampiri laki-laki paru baya yang sudah lemah tak berdaya itu.
Perlahan ia membuka mata ketika mendengar teriakan anaknya.
“Bapak huk huk huk…” Zahra memeluk tubuh ayahnya diiringi tangisan yang memecah suara kerumunan warga.
“Za-Zahra. Nak, bapak pamit yah,” jawab ayahnya dengan napas yang tersengal dan hampir tak ada lagi.
“Nggak! bapak harus kuat! demi Zahra pak, hikshiks,” Tangis Zahra semakin pecah.
“Zah-ra juga ha-rus kuat de-mi ba-pak, Za-hra harus jadi orang suk-ses walau-pun gak ada bapak di samping Zahra,” Ucap ayah sarah dengan susah paya
“Bapak jangan ngomong gitu, bapak gak boleh ninggalin Zahra sendiri pak,” titah Zahra untuk ayahnya
“Zahra pasti bisa, Zahra kan anak bapak yang kuat, kamu jaga diri kamu yah nak. Hidup itu memang tak selamanya indah, akan ada kalanya kamu merasakan kesedihan yang akan membuatmu putus asa, tapi jangan ladeni rasa ingin menyerah itu. Kamu harus tetap melangkah walau harus menginjak kerikil yang tajam,” kalimat motivasi terakhir yang diberikan ayahnya untuk Zahra sebelum menghembuskan nafas terakhinya.
“Bapaaak. Bapak..” kata Zahra dengan menguncang-gunangkan tubuh ayahnya. “Bapaakk.. tidak… Tidak.. bapak tidak boleh pergi. Bapaaaak… Zahra mohon pak, buka mata bapak..” kata Zahra pilu
“Bapakkkk hukhuk, kenapa bapak ninggalin Zahra sendiri pak? Zahra gak sekuat itu pak,” kata Zahra memeluk jasad ayahnya. Ia tak menyangka semesta begitu kejam dengan memberikan kesedihan yang sulit untuk ia terima.
Perlahan ibu Dewi mendekati Zahra, ia memeluk tubuh gadis itu dengan niat untuk menenangkannya agar jasad ayahnya bisa segera dibawa ke rumah sakit dan dimakamkan sesuai dengan syariat.
Kini ayahnya sudah tiada .Kenyataan yang sangat berat diterima oleh Zahra, dengan berat hati Zahra harus menerimanya dan mengikhlaskan kepergian ayahnya. Ia tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan karena itu hanya membuat ayahnya menderita.
Perlahan ia bangkit dengan terus membawa kalimat-kalimat motivasi yang diberikan ayahnya. Hingga kini ia sudah menjadi wanita yang sukses dengan gelar dokter spesialis gizi. Ia juga baru saja melauncing novel pertamanya yang berjudul “Kisah Gadis Penjual Gorengan”. Novel ini menceritakan tentang kisah nyata dirinya yang berhasil menjadi seorang dokter dengan menjual gorengan untuk menyambung hidup dan berkat kegigihannya, ia bisa mendapat beasiswa untuk kuliah kedokteran seperti yang ia impikan sedari kecil. Gadis yang berjuang sendiri dengan membawa rasa sakit atas kepergian ayahnya.
Di hari berikutnya, tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang memakai pakaian kusut dan memegang perutnya seperti menahan rasa sakit karena lapar. Tatapannya begitu sendu. Ia seakan tak punya semangat hidup lagi.
Hati Zahra tersentuh ketika melihat wanita tersebut. Ia seakan memiliki ikatan dengannya. Wajah itu terasa familiar baginya. Seakan ia pernah melihatnya.
“Assalamualaikum bu,” kata Zahra menghampiri wanita tersebut.
“Waalaikumsalam, kamu siapa?” jawab wanita itu ketakutan.
“Saya Zahra bu, ibu mau gak ikut sama saya untuk makan siang? ibu jangan takut saya, saya kerja di rumah sakit dekat sini,” kata Zahra berusaha untuk menenangkan ibu itu.
Tanpa berpikir, wanita itu langsung mengangguk mendengar ajakan Zahra untuk makan siang. Ketika tiba di salah satu warung, Zahra memesan 2 porsi nasi panas lengkap dengan lauknya, wanita itu tampak sangat senang, ia seakan baru melihat penampakan makanan lezat yang siap untuk di santap. Wanita itu menyantap makanannya dengan lahap bahkan Zahra harus memberikan nasinya karena ia masih kelaparan. Zahra mengelus rambut wanita itu tanpa sengaja air matanya jatuh membasahi pipinya. Wajah wanita itu sangat tidak asing baginya, ia terus menatapnya.
Setelah selesai melahap semua makanannya, wanita itu mengeluarkan sesuatu dari saku dasternya yang terdapat banyak tambal. Ternyata ia mengeluarkan sebuah foto masa lalu yang menampakkan dirinya ketika masih muda.
Alangkah terkejutnya Zahra ketika melihat foto itu. Foto yang sama yang pernah ditunjukkan oleh ayahnya saat ia masih berusia 10 tahun. Inilah kehebatan ayahnya, ia tak pernah menanamkan kebencian kepada Zahra sekalipun kepada wanita yang sudah melahirkan namun meninggalkan Zahra di usia yang masih sangat membutuhkan seorang ibu.
“Ibu, ini Zahra anak ibu,”
Wanita itu terkejut mendengar ucapan Zahra. Ia tak percaya bagaimana mungkin anak itu bisa mengenali ibunya yang telah meninggalkannya selama 25 tahun hanya lewat foto.
“Mungkin ibu gak percaya tapi ini faktanya bu. Aku Zahra, anak yang ibu tinggalkan 25 tahun yang lalu,” sambung Zahra meneteskan air mata.
Wanita itu berdiri berniat untuk meninggalkan Zahra karena malu. Ia telah meninggalkan gadis yang ia pikir akan membencinya justru sangat bahagia ketika bertemu dengannya.
“Ibu… mau sampai kapan ibu ninggalin Zahra seorang diri,” Kata Zahra dengan pilu. Kata yang mampu menyayat lubuk hati yang mendengarkannya.
Langkahnya terhenti ketika mendengar kata sendiri, di mana ayahnya? Ia berbalik memandang gadis itu yang masih berdiri di tempatnya.
“Di mana bapakmu nak?”
“Hiks….hiks bapak sudah meninggal 9 tahun yang lalu bu,” jawab Zahra mengeluarkan kalimat yang begitu berat ia ucapkan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, wanita itu langsung memeluk Zahra.
“Maafin ibu nak, kamu pasti tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Kenapa kamu tidak benci sama ibu?” Ibu Zahra mendekapnya dengan sangat erat, seakan dia tidak ingin lagi terpisahkan oleh anaknya.
“Anak mana yang akan membenci seorang malaikat yang sudah melahirkannya? inilah hebatnya ayah bu, dia gak pernah buat Zahra benci sama ibu. Dia sudah berhasil menggantikan posisi ibu selama ibu pergi tapi tidak menanamkan kebencian dalam diri Zahra, dan foto yang sama pernah ayah tunjukkan ke Zahra, karena itulah aku bisa mengenali ibu,” jawab Zahra tersenyum bahagia karena sekian lama akhirnya ia bisa memeluk malaikatnya.
“Ibu malu sama diri ibu sendiri, meninggalkan dua manusia yang berhati malaikat hanya untuk mengejar dunia yang penuh dengan sandiwara, ibu gak pantas di panggil ibu,” Ibu Zahra melepas pelukannya dan memandang wajah anaknya yang selalu dia rindukan.
“Ibu jangan ngomong gitu, bagaimanapun, ibu adalah wakil Tuhanku karena doa ibu dan ayahlah aku bisa jadi seperti sekarang. Ibu mau kan tinggal sama Zahra?” Ucap Zahra dengan wajah berbinar.
“Iya nak, ibu janji kamu gak akan merasa kekurangan kasih sayang lagi. Semoga ibu bisa menjadi seperti ayahmu nak. Ibu akan menghabiskan sisa hidup ibu hanya untuk memberikan kasih sayang untuk kamu,” kata Ibunya Zahra dan memeluk lagi Zahra. Dia sangat menyesal telah meninggalkan keluarga kecilnya dulu.
“Bapak pasti sekarang senang banget karena ibu sama Zahra sudah ketemu. Akhirnya keinginan bapak sudah terwujud bu,” Kata Zahra dalam pelukan ibunya yang sangat dia rindukan.
Mereka saling berpelukan dengan melepas rindu masing-masing, sungguh penampakan yang sangat mengharukan. Setelah 25 tahun berpisah akhirnya mereka bisa bersama. Akhirnya Zahra bisa mendapatkan kebahagiaan yang direnggut olehnya setelah kepergian ayahnya. Kini tibalah masa-masa bahagia yang akan dirasakan oleh Zahra. Ia akhirnya bisa merasakan pelukan seorang ibu.
“Kehadirannya yang membawa kesejukan bagi anaknya, dekapannya yang mampu menghapus kesedihan anaknya, senyuman yang mampu membuat hati anaknya menjadi tenang. Dia adalah ibu, malaikat yang memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan tidak ada tandingannya.” ~ Hermawan (Ayah Zahra). _
