Oleh: Aisyah Shafira Yunus*

Malam itu aku menangis, dan entah kebetulan atau tidak, langit pun ikut menangis bersamaku. Rintik hujan turun perlahan, seakan langit tahu bahwa aku sedang menahan sesak di dada. Mungkin, hujan memang sengaja datang untuk menutupi suara tangisanku.

Aku menatap derasnya air yang jatuh dari langit, lalu berbisik lirih,
“Hujan, apakah kamu mendengar suara tangisanku? Apakah kamu sengaja turun agar orang lain tidak tahu bahwa aku sedang menangis?”

Entah mengapa, setiap kali aku menangis, hujan selalu datang. Seakan dia tahu kapan hatiku sedang rapuh, dan setiap kali itu terjadi, aku berhenti menangis. Ada ketenangan yang tiba-tiba menyelimuti dada, seperti pelukan lembut yang datang tanpa suara.

Aku berbaring di atas kasur, membiarkan suara hujan menari di telingaku. Di sampingku, buku kesukaanku terbuka, dan aku mulai membaca perlahan. Setiap detik suara hujan jatuh ke bumi membuat pikiranku lebih tenang.

Bagi sebagian orang, hujan mungkin dianggap menakutkan, dingin, suram, atau bahkan menyedihkan. Tapi bagiku, hujan adalah penenang jiwa. Saat pikiranku kacau, saat hati terasa sesak, hanya hujan yang bisa membuatku merasa damai.

Kadang, ketika tak ada seorang pun yang mau mendengar ceritaku, aku menatap hujan dan mulai berbicara padanya. Aku menceritakan semuanya. Kesedihan, kelelahan, dan rasa kehilangan yang tak bisa kujelaskan pada siapa pun. Anehnya, meski hujan tak pernah menjawab, aku selalu merasa didengar.

Di saat aku lelah menghadapi dunia, menghadapi ucapan-ucapan yang melukai, aku hanya berharap hujan turun karena hanya pada hujan aku bisa bercerita tanpa takut dihakimi.

“Hujan,” kataku pelan malam itu, “terima kasih sudah selalu mau mendengarkanku. Meskipun kamu tak bisa menjawab, aku tahu kamu memahami. Suaramu menenangkan hatiku, dan rinai dinginmu menghapus air mataku.”

Mungkin bagi orang lain berbicara pada hujan adalah hal yang mustahil, tapi bagiku, hujan adalah sahabat yang selalu datang di saat aku paling membutuhkan. Ia tak pernah menasihati, tak pernah menghakimi. Ia hanya hadir, mendengarkan, dan menenangkan.

Kini aku menyadari, setiap tetes hujan yang jatuh membawa pesan tentang ketegaran, bahwa setelah tangis dan badai, akan selalu ada udara yang lebih segar, tanah yang lebih subur, dan hati yang lebih kuat.
Seperti hujan yang selalu berhenti pada waktunya, aku pun percaya kesedihan ini pun akan reda, dan akan berganti dengan pelangi yang indah.

Watansoppeng, 10 November 2025

(Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng, Kelas VIII.4)


(Visited 11 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *