Oleh: Nasifa Safina*
Aku bertemu dengan dia adalah hal yang paling membuatku bahagia. Tapi itu dulu. Dulu, dia adalah tempat bermain ternyaman bagiku. Dia adalah sahabat yang paling aku percaya, namun dia menghancurkan kepercayaan itu. Dia sudah membuatku kecewa dengan apa yang dia lakukan padaku.
Aku memang bodoh karena sudah menaruh kepercayaan yang begitu besar padanya hingga aku menceritakan semua kejadian-kejadian yang pernah aku alami kepadanya. Aku tidak pernah membayangkan dan tidak pernah menaruh curiga sedikit pun kalau dia akan menceritakan dan membocorkan semuanya kepada orang-orang yang dia temui. Itu karena aku begitu percaya padanya.
Dia sahabatku, orang terdekat yang aku miliki selama ini, namun dia menusukku dari belakang. Aku sangat kecewa dan kepercayaan yang kupupuk selama ini langsung hilang berganti menjadi rasa jengkel dan benci. Ternyata benar kata orang bahwa sebenarnya orang terdekatlah yang menjadi penyebab depresi paling hebat.
Aku memang memang memaafkannya, tapi tak bisa dipungkiri kalau aku masih menaruh dendam padanya. Bagiku, memaafkan itu memang perkara mudah, namun untuk percaya lagi seperti dulu itu sudah tidak mungkin lagi. Aku tidak suka orang yang bermuka dua.Terima kasih karena pernah menjadi sahabat kepercayaanku. Kini semuanya tidak berguna lagi karena engkau sudah menyia-nyiakannya. Semoga engkau bisa menjadi orang baik kembali.
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng
