Oleh : Nayla Basam

Malam ini, layaknya hening memaksa berseru, aku bisu. Menanti kedatanganmu yang tak menentu. Kau tidak ada, hanya sebuah insan tak bernyawa yang kubuat dalam skenario palsu saja. Segala sesuatu terlihat sangat nyata, namun pada dasarnya semua itu hanyalah fatamorgana.

Tentang aku, kamu, dan seluruh kejadian palsu yang kuciptakan waktu itu. Indah, sangat indah. Aku selalu berdoa agar semua ini menjadi nyata, namun doaku bagaikan suara yang tak pernah didengar oleh semesta.

Mimpi dalam mimpi, khayalan dalam khayalan, sudah menjadi bagian dari hari-hariku. Kepalsuan dunia, yang membuatku terbawa euforia. Pada tulusnya dimensi romansa, tentang abadinya sebuah rasa.

Malam buta tersandung cahaya, skenario tua yang terbakar hangatnya. Kesadaran seolah menyapa, perihal dunia yang menyimpan banyak cerita. Menerima takdir semesta yang tak tau akan sekejam apa. Selamat tinggal Dayita, dekap aku di kemudian hari. Walau tidak saat ini, namun biarkan kita berlari menurut takdir.

Watansoppeng, 20 Oktober 2021

(Visited 151 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *