Oleh: Izz Zayani

Hari ini, satu tahun lagi bertambah dari hidupmu.

Sementara aku masih saja merasa bahwa kemarin kau begitu kecil—berlari dengan langkah yang belum sempurna, memanggil namaku dari balik pintu, lalu membuat rumah menjadi lebih ramai hanya dengan keberadaanmu.

Anehnya, waktu tidak pernah meminta izin ketika membawa seseorang tumbuh dewasa.

Pelan-pelan, tanganmu yang dahulu menggenggam jariku mulai belajar melepaskan. Langkahmu yang dahulu selalu mencari tempat untuk bersembunyi di dekatku, kini mulai berani berjalan sendiri.

Dan mungkin suatu hari nanti, kau akan pergi jauh—mengejar sesuatu yang bahkan belum bisa kau beri nama hari ini.

Kalau hari itu datang, aku hanya ingin kau tahu satu hal:

aku akan tetap menjadi rumah yang tidak perlu kau ketuk.

Kau boleh tumbuh setinggi apa pun.
Boleh terbang sejauh apa pun.
Boleh menemukan dunia yang jauh lebih luas daripada halaman rumah kita.

Tetapi jika suatu hari dunia terasa terlalu bising, pulanglah.

Bukan karena kau kalah, melainkan karena tidak semua perjalanan harus ditempuh sendirian.

Selamat bertambah usia, adikku.

Semoga hidup tidak selalu memberimu jalan yang mudah, tetapi semoga ia selalu memberimu keberanian untuk melewati jalan-jalan yang sulit. semoga hatimu tetap lembut meski dunia kadang tidak demikian. Dan semoga, di antara begitu banyak hal yang kelak kau temukan, kau tidak pernah kehilangan dirimu sendiri.

Aku mungkin tidak akan selalu pandai mengatakan bahwa aku menyayangimu.

Barangkali karena aku terlalu gengsi untuk mengatakannya langsung.

Maka, sebagai kakak yang lebih mudah menyusun kalimat daripada menyusun keberanian, aku hanya bisa mengucapkannya sepanjang ini—lalu mengirimkannya ke sebuah bengkel narasi, atau mungkin ke pena anak indonesia.

Agak lucu memang.

Ucapan yang seharusnya cukup disampaikan di meja makan, justru harus melewati halaman, tanda baca, dan entah berapa banyak kata sebelum akhirnya sampai kepadamu.

Tapi mungkin begitulah caraku menyayangimu.

Tidak selalu terdengar,
tidak selalu terlihat,
namun selalu mencari jalan untuk sampai.

Jadi, jika suatu hari kau membaca tulisan ini dan bertanya mengapa kakakmu harus menulis sepanjang ini hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun—

jawabannya sederhana:

Karena ada kasih sayang yang terlalu besar untuk sekadar berkata, “selamat ulang tahun, ya.”

Dan ada seorang kakak yang terlalu gengsi untuk mengatakannya langsung.

Maka biarlah tulisan ini yang mengatakannya untukku.

selamat ulang tahun, dek.

Tumbuhlah dengan bahagia.

Dunia masih menunggumu.

(Visited 3 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *