Oleh: Aprilla Harlina
Hujan turun amat lebatnya, membuat atap rumah warga menjadi basah kuyup. Udara yang segar tercium dari aroma hujan yang rintik sore ini. Dari jendela, aku memutuskan untuk berdiri membukanya dan melihat ke arah sana. Sesuatu yang terhalang. Ada apa di sana? Aku ingin tahu.
Mengapa yang bisa kulihat hanyalah bangunan-bangunan? Pemandangan alam yang hijau setelah turunnya hujan, ke mana perginya semua itu? Apakah ini akan menjadi awal mulanya era yang baru? Kenapa? Kenapa semua ini bisa terjadi? Apakah revolusi zaman harus merenggut keasrian bumi nan hijau ini? Lantas, siapa yang akan menopang kehidupan kami? Ahh… semuanya takkan mampu memberikan jawaban yang memuaskan, baik itu aku maupun kau! Sudahkah kita bisa menghentikan semua ini? Aku lelah dengan semua ini.
Semuanya, tidak ada yang mengerti satupun perkataanku. Ya, mungkin memang akulah yang teramat egois, ingin menang sendiri. Orang sepertiku memang tidak pantas memiliki teman. Ahh… semuanya sama saja. Oh tidak, tentu saja kau memikirkannya kan? Kurasa selama ini aku hanya salah paham. Aku hanya takut untuk mengekspresikan diri. Ya, aku haus validasi, dan aku…
Ahh… Siapapun tolong halangi jalannya, jangan biarkan ia sampai pergi dari hadapanku.
