Oleh: Annisa Miftahul Khaerah*

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang anak bernama Darma yang tinggal di pedesaan bersama kakek dan neneknya. Darma adalah anak yang baik hati dan sering dijuluki sebagai Si Penolong.

Suatu hari, seperti biasa, Darma bermain ke hutan. Ia berjalan melewati pepohonan yang lebat hingga tiba-tiba bertemu dengan seorang kakek tua yang sedang menyusuri hutan itu.

“Wahai anak muda, engkau ingin pergi ke mana?” tanya kakek itu.

Darma terdiam sejenak, lalu menjawab, “Aku ingin bermain, Kek.”

Mendengar jawaban itu, kakek tersebut tiba-tiba menunjukkan raut wajah kaget dan panik. Ia segera menghampiri Darma dan menggenggam tangannya erat.

“Ikut denganku, Nak! Kamu dalam bahaya!” ujar sang kakek dengan nada cemas.

Darma merasa heran, tetapi ia hanya bisa mengikuti arahan kakek tersebut. Ia dibawa ke sebuah rumah kecil di tengah hutan. Setibanya di sana, Darma bertanya-tanya dalam hati, “Aku di mana?” Ia tak bisa berkata-kata dan hanya memperhatikan sekelilingnya dengan penuh rasa ingin tahu.

Tak lama kemudian, kakek itu menyuruh Darma duduk dan membawakannya segelas air berwarna merah pekat dengan aroma bunga mawar. Darma menatap gelas itu dengan curiga dan ragu untuk meminumnya.

“Minumlah, Nak. Itu adalah air kekuatan,” ujar sang kakek.

Darma menggeleng dengan tegas. “Aku tidak mau, Kek. Itu minuman aneh,” ujarnya.

Namun, kakek itu tetap memaksanya. Dengan perasaan terpaksa dan penuh keraguan, akhirnya Darma memberanikan diri untuk meneguk air tersebut.

Setelah Darma meminum air itu, kakek berkata, “Pulanglah ke rumahmu, tetapi ingat, jangan pernah keluar pada malam hari.”

Darma menuruti pesan sang kakek dan segera berlari pulang. Sesampainya di rumah, ia mulai merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Perlahan, ia menyadari bahwa dirinya menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Keesokan harinya, seekor harimau tiba-tiba muncul dan hendak menyerang kakek serta neneknya. Namun, dengan cepat Darma berdiri di hadapan harimau itu dan berkata dengan lantang, “Pergilah dan jangan pernah kembali!”

Harimau itu langsung berbalik dan berlari menuju arah barat. Sejak saat itu, ia tak pernah terlihat lagi di desa.

Melihat keberanian cucunya, sang nenek bertanya, “Mengapa kau seberani itu, Darma?”

Darma menatap kedua tangannya dan menjawab, “Ini berkat air merah yang kuminum dari kakek di hutan, Kek, Nek.”

Dengan perasaan penasaran, Darma segera berpamitan kepada kakek dan neneknya, lalu berlari menuju rumah kakek tua di hutan. Namun, saat ia tiba di sana, rumah itu telah menghilang tanpa jejak. Yang tersisa hanyalah selembar surat berisi pesan untuknya:

“Gunakan kekuatanmu untuk berbuat kebaikan.”

Darma terharu membaca pesan itu. Ia kembali ke rumah dengan wajah penuh kebahagiaan dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk selalu melindungi kakek dan neneknya serta menggunakan kekuatannya hanya untuk kebaikan.

English*

Magic Red Water

By: Annisa Miftahul Khaerah

Long ago, there lived a boy named Darma in a rural village with his grandparents. Darma was a kind boy and was nicknamed “Sipenolong” (The Helper). One day, while playing in the forest as usual, he passed through dense trees and met an old man who was wandering through the forest.

“Where are you headed, young man?” asked the old man. I was silent for a moment, then said, “I want to play.” The old man’s face turned surprised and panicked, and he quickly approached me and grabbed my hand. “Follow me, boy, you’re in danger,” he said with a panicked face.

I was confused, silent, and could only follow the old man’s instructions. He took me to a small house in the middle of the forest. I wondered, “Where am I?” I couldn’t speak, and I just observed my surroundings.

The old man told me to sit down and brought me a glass of dark red water with a rose fragrance. I was hesitant and refused to drink it. “Drink it, boy, it’s a strength potion,” said the old man. I firmly refused, “I don’t want to, Grandpa, it’s weird.”

However, the old man insisted that I drink it. With a sense of reluctance and doubt, I finally drank the water. After I finished, the old man said, “Go home now, but never go out at night.” I followed the old man’s instructions and ran back home.

When I arrived home, I started to feel the effects of the water. I felt stronger. The next day, unexpectedly, a tiger appeared and wanted to attack my grandparents. But I quickly fought the tiger and said, “Leave and never come back!” The tiger ran west and never appeared again.

My grandparents asked, “Why were you so brave, Darma?” I looked at my hands and said, “It’s because of the red water I drank, Grandma, Grandpa.” I immediately said goodbye and ran to the old man’s house, but unfortunately, the house had vanished, leaving only a letter with a message for me.

“Use your strength for good,” the letter read. I was touched and returned home with a happy face, promising to protect my grandparents.

Watansoppeng, 3 Maret 2025

  • Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas 8.3
(Visited 12 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *