Oleh: Keysha Dwiayundah*
Kala itu aku berjalan sendirian di tempat pertama kali melihatmu, mengingat semua yang pernah terjadi di sini. Pertemuan dimulai saat kita masih kecil. Aku pertama kali melihatmu saat kau sedang bermain sendirian dan aku menghampirimu. Kita saling berkenalan, tumbuh dewasa bersama-sama, dan saling berbagi cerita.
Seiring berjalannya waktu, perasaanku kepadamu mulai tumbuh. Aku menganggapmu lebih dari seorang teman. Setiap kali melihatmu aku merasa jantungku berdebar-debar. Kau sudah mengetahui jika aku menyukaimu, namun kau mengatakan, “Lebih baik jika berteman saja, aku tidak ingin kita menjadi asing.” Aku memahami maksud perkataannya, maka aku mencoba untuk mengerti dan tidak memaksakan keadaan.
Berhari-hari lamanya kau tidak mengabari. Aku mulai merasa resah. Aku mencoba menghubungi keluarga terdekatmu dan selanjutnya aku baru mengetahui jika kau mengidap penyakit yang berbahaya yang diturunkan dari salah satu keluargamu. Kau menolakku karena kau takut jika suatu hari keturunanmu akan memiliki penyakit yang sama. Aku terus berusaha untuk menghubungimu, namun tidak ada balasan. Aku mencari sampai ke rumahmu, namun ternyata aku terlambat.
Kau sudah pergi jauh meninggalkanku, bahkan aku belum sempat menyampaikan selamat tinggal kepadamu. Ternyata selama ini kau menyimpan perasaan yang sama kepadaku, namun kau takut aku terluka karena kepergianmu. Kau hanya menuliskan sebuah surat untuk ku.
“Surat untuk cantikku”
Hai cantiknya aku. Kalo kamu baca surat ini, berarti aku sudah pergi jauh dari kamu. Maaf aku tidak memberi kabar apa-apa, yang penting kamu tidak boleh terlambat makan, jangan sakiti diri kamu sendiri. Aku tidak ingin memberi tahu tentang penyakit yang kuidap sejak kecil. Aku cuma tidak mau kamu sakit karena kepergianku. Aku tidak sanggup lagi tulis surat panjang-panjang untuk kamu. Aku mau tidur dulu yaa. Satu yang harus kamu tahu, kamu itu berarti. Dadahh cantikku.
Hei, asal kamu tau, aku masih berharap kamu kembali. Aku masih berharap kamu ada di dekatku. Aku hanya bisa berharap kita bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Tak peduli selama apa pun itu, aku akan menunggumu.
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng, Kelas 7.1
