Oleh: Madeline Cinta Fitriadi*

Kala itu aku berjanji membuat lingkup tangis, tawa, suka dan dukaku dalam sebuah tulisan indah. Tulisan yang mendeskripsikan entah itu kekejaman atau ancaman dunia padaku. Anak panahnya menusuk tubuhku yang lemah. Memang tak berdarah, tapi sakitnya seakan tak kunjung pergi. Apa yang kunanti? Penantianku tak akan sia-sia jika kesabaranku terus berkesinambungan. Apa boleh buat rasa rindu membuat kita semakin terasa jauh.

Di pagi hari, ia membenahiku bekal biji jagung. Aku menanamnya. Ia bilang “Apa yang kamu tanam, itulah yang kamu tuai”. Siang hari aku menyiramnya. Rehat sejenak sembari memakan bekal yang ia siapkan. Mentari sore seakan menyuruhku pulang. Berteduh di bawah pohon hijau nan rindang. Hari ini telah usai, aku akan kembali esok hari untuk melihat benih yang kutanam tadi.

Ia siapa? Wanita berjasa yang menjalankan hidupku. Wajah tua nan cantik yang dulu selalu mendekapku. Waktu memang terus berjalan, aku tak menyalahkannya. Namun, jarak bagiku adalah penjahat kedua setelah takdir. Mereka hanya penjahat dalam hidupku saja.

Takdir adalah hal mutlak yang tak dapat dihindari. Namun, bolehkah aku menghentikan takdir? Benda tajam seakan mengejarku untuk dijadikan tumbal. Namun cahaya Tuhan melindungiku. Tak akan kuakhiri hidup walau kepalaku dipenuhi masalah seberat bumi. Api neraka menungguku dari alam lain. Tak akan kubiarkan ia menyentuhku.

Prosa ini akan bercerita, saat usiaku masih belia. Senyumku tak palsu! Tangisku pun begitu. Tak ada kata tak mampu saat menjalani hidup kala itu. Dewasa menjadikanku pribadi mandiri yang bijaksana. Ternyata kehidupan sosial telah memberikanku makna bahwa kita adalah makhluk yang saling membutuhkan. Sekali lagi, apa boleh buat jika takdir sudah berkata?

Siang hari, Ibuku menyuruh kembali ke ladang jagung yang kemarin kutanam. Tampak tumbuh tanaman itu walau hanya setinggi lutut. Itu sudah lebih dari cukup untuk menghargai penatku saat menanamnya. Kembali kusiram, berharap tanah menyuburkannya dalam semalam.

Senja menyuruhku pulang. Nuansa jingga seakan menjadi alarm. Di rumah, ibuku menanti di depan pintu. Menunggu putri kecilnya yang sedang menangis tersedu. Wajah cemasnya seakan memberi tanda. Tak dapat ia sembunyikan. Belum sampai di teras, Ia sudah mendekapku dalam kejauhan.

Kini itu yang kurasakan. Wanita ini meninggalkanku dalam diam. Dalam doanya ia menyebut namaku pelan. Aku tahu, aku dengar, tapi aku diam. Malam hari aku kembali pulang, jagung yang kutanam hancur dihantam hujan deras. Aku kecewa, menangis dan pasrah. Tapi tak ada ia yang menungguku di depan pintu. Padahal aku benar-benar menangis saat itu.

Ini yang kukatakan, semesta bahkan menertawakan. Prosa indah beralih menjadi kesedihan. Akan kuciptakan puisi baru, sebagai balasan atas benih yang engkau beri di pagi hari.

Aku menyayangimu, wahai wanita yang kudefenisikan kata-kataku padanya.
Panjangkan umurnya Wahai Tuhan Semesta Alam.
Selamat pagi, Sang pemilik pagi. Maka hanya engkaulah yang pantas disayangi. Ibu yang kucintai.
Wahai lautan dan matahariku. Aku adalah manusia beruntung yang menjadi anakmu.
Hati tak akan mudah percaya kecuali hanya padamu. Bilangan denyut nadi tak akan mampu membalas semerbak pemberianmu.

Ya Tuhan, bantulah aku untuk berbakti padanya.
Berikan Surga untuknya, karena ia adalah surga untukku.
Tuhan, Jauhkan ibuku dari kejahatan dunia dan tidak merasakan kesakitan apa pun.
Janganlah engkau ambil dia sebelum aku.
Tak akan ada yang bisa menggantikannya dalam hidupku.
Ya Tuhan, bantulah aku untuk berbakti padanya, Ibuku yang tercinta.

*Penulis adalah siswi SMAN 1 Nan Sabaris, Padang

(Visited 26 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *