Hari itu, di teras rumah, aku duduk seorang diri sambil berselancar ke media sosial facebook. Seketika ku melihat sebuah pemberitahuan seminar dari salah satu panitia penyelenggara seminar itu sendiri pada tanggal 10 Mei 2022. Dan aku pun bercakap dengan  panitia tersebut, bertanya tentang seminar “Menjadi Guru Tangguh di Tengah Serbuan Imperialisme” apakah saya bisa daftar  seminar tersebut.

“Iya, adik bisa daftar.” Ujar panitia tersebut.

“Tapi saya bukan guru”.

“Adik, seminar bukan hanya guru yang bisa hadir, tapi untuk umum pun bisa hadir”

“Oh, Iya Bu, silahkan daftar saya.” Jawabku kemudian.

beberapa hari kemudian, panitia tersebut chat saya di media sosial

“Ingat dek, seminar tanggal 25 Mei 2022 yang akan dibawakan oleh RIM”.

Aku pun heran sebenarnya Om Rim itu siapa sih? Dan saya bingung RIM itu apa?

Dan tibalah tanggal 25 Mei 2022, Seorang teman yang merupakan anggota komunitas menulis Pena Anak Indonesia, Suci Angraeni mengetuk-ngetuk pintu rumahku dan berkata, “Aska, udah jam 9, ntar kita telat seminarnya.”

 “Oh, iya, saya ambil kunci motor dulu”

Sejurus kemudian, kami pun berangkat menuju lokasi seminar. Dalam perjalanan melewati tol, di tengah terik matahari dan angina kencang tak menyurutkan semangat dan rasa penasaran kami untuk segera tiba di lokasi. Kurang lebih 1 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Aula Mesjid Agung Lasusua.

Tatkala saya memasuki aula tersebut, hatiku berdecak sangat kagum karena melihat acara seminar ini dihadiri oleh banyak orang dari berbagai kalangan yang berjumlah kurang lebih 300 orang. Kami pun dihampiri dan disapa oleh Salah satu panitia, Pak Samrin Samad yang juga merupakan mentor PAI Kolaka Utara. Beliau  mengarahkan kami untuk mengambil kursi dan duduk bersama sahabat PAI yang lain.

Setelah kami berdua duduk, saya menoleh ke arah sebelah kanan, ternyata yang di samping aku adalah Irmayanti, adik kelas aku waktu SMP.

“Kak Aska bukan?” Ujarnya.

“Iya, aku Aska.”

Irmayanti pun mengenalkan teman PAI-nya yang sudah lama bergabung dan bahkan sudah 20-an Karya tulisan dengan berbagai genre yang sudah di buat. Asyik ngobrol, tak terasa acara segera di mulai. Rasa penasaranku sedikit terobati karena melihat sosok inspirator yang selama ini hanya saya lihat bergentayangan di media sosial dengan quotesnya yang sangat menginspirasi banyak orang.  

Ya, dialah Ruslan Ismail Mage yang akrab dipanggil Om RIM oleh teman-teman PAI, seorang Inspirator dan akademisi. Beliau jugalah yang mendirikan komunitas Bengkel Narasi dan Pena Anak Indonesia(PAI). Batinku seketika bergejolak tatkala Om RIM memanggil teman-teman PAI untuk berdiri di depan seluruh peserta yang hadir, sambil memperkenalkan bahwa mereka adalah calon generasi penerus tonggak literasi yang ada di Kolaka Utara.

Jiwa ini semakin terbakar tatkala Om RIM, melontarkan rudal-rudal narasi yang siap menghujam jiwa-jiwa setiap orang yang ada di ruangan itu. Aku hanya bisa diam menatap setiap gerakan beliau dalam menyampaikan narasinya.

Tak terasa acara pun telah usai, tak lupa kami mengabadikan momen spesial itu dengan berfoto-foto. Dan yang pasti tak boleh terlewatkan adalah berfoto Bersama Sang Inspirator. Setelah acara sesi foto selesai kami pun pamit untuk pulang. Sesampainya di rumah,  kalimat yang dilontarkan Irma, selalu melayang-layang di ingatanku. Saya pun berinisiatif untuk bergabung di PENA ANAK INDONESIA,saya yakin pasti bisa seperti teman-teman PAI yang lain, bisa membuat cerita, bisa menuangkan emosi  melalui sebuah karya tulis, bisa menjadi penulis andal, dan bisa menjadi penulis yang bisa memotivasi penulis lain, itulah impian saya.

(Visited 23 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *