Oleh: Dhea Febrina*
Aku adalah seorang anak yang ingin mempunyai rumah utuh untuk pulang. Rumah untuk tempat istirahat jiwa di saat aku lelah, dan rumah yang disinari cahaya kehangatan di setiap sudutnya.
Aku seorang anak yang mendambakan keluarga Cemara yang bahagia, tetapi kenapa aku tidak memilikinya? Apakah Tuhan tidak sayang padaku?
Aku seorang anak yang sering berprasangka buruk kepada Tuhan. Aku hanya ingin keluarga yang lengkap Tuhan, tapi mengapa rumahku tidak seperti rumah orang lainnya.
Tuhan, aku hanya seorang anak yang mendambakan kasih sayang. Apakah aku tidak boleh mendapatkannya? Tuhan, aku ingin seperti teman-temanku yang mendapat sosok rumah itu. Apa salah untuk berharap, Tuhan?
Tuhan, cita-citaku sangat sederhana mendapatkan sosok rumah yang aku inginkan.
Tuhan, aku lelah. Kapan mereka akan memberikan aku rumah itu. Aku punya rumah tapi mengapa aku layaknya orang asing di dalam rumah itu?
Tuhan, apakah aku salah mendambakan rumah yang nyaman untuk aku pulang? Tempat aku bisa bersujud kepada-Mu.
Tuhan, aku lelah hidup dalam dunia yang asing ini. Sampai kapan aku hidup dalam keasingan ini, Tuhan? Ini sangat menyakitkan.
Tuhan, apakah menyerah adalah jalan satu-satunya? Seandainya aku menyerah dan memilih pulang untuk bertemu dengan-Mu, apakah Tuhan akan marah?
Tuhan, hanya Engkaulah yang aku punya di dunia yang asing ini. Mungkin dengan kembali pulang kepada-Mu itu akan lebih menyenangkan dari pada harus hidup dalam dunia yang penuh keasingan ini.
*Siswa SMAN 1 Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman
