Oleh : Risha Zultahanul Aulya

Saya akan menceritakan kisah seorang anak remaja yang bernama Naya. Seorang gadis yang berpenampilan seperti berandalan. Ia terkenal di sekolahnya karena tingkah lakunya yang selalu membuat onar. Naya tak memiliki satu pun teman. Semua menjauhinya karena mereka takut pengaruh buruknya.

Pada suatu hari, di kelas Naya kedatangan seorang murid baru yang bernama Naca. Karena tidak ada bangku yang kosong selain bangku di samping Naya, guru pun menyuruh Naca duduk di samping Naya. Naca membuka pembicaraan dengan Naya dan memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya, tapi sayangnya Naya tidak menggubrisnya sama sekali. 

Pada saat jam istirahat, Naca masih mencoba untuk berkenalan lagi dengan Naya hingga akhirnya Naya meresponnya. Mereka pun berjalan bersama ke kantin. Orang-orang memandang dengan tatapan yang aneh karena penampilan mereka yang sangat berbanding terbalik. Namun mereka tidak peduli.

Saat bel pulang berbunyi, Naya dan Naca berpisah karena Naca terlebih dulu dijemput oleh ibunya. Naya memutuskan untuk istirahat sejenak di halte bus dekat sekolahnya. Tapi saat Naya mulai memejamkan matanya, tiba-tiba saja ada dua orang preman yang menghampirinya. Kedua preman itu mengganggu Naya. Walaupun pakaian Naya terlihat seperti berandalan, tapi dalam hatinya sangat ketakutan. Kedua preman itu melakukan hal seharusnya tidak mereka lakukan ke Naya. Naya berusaha ingin pergi, namun usahanya sia-sia.

Tiba-tiba saja ada orang yang meneriaki mereka. Ternyata itu adalah Naca dan ibunya. Preman itu lari ketakutan. Naya menangis di pelukan Naca. Kejadian itu terbayang-bayang di matanya. Naca berusaha menenangkan Naya dan memberi tahu alasan kenapa preman itu mengganggunya. 

Keesokan harinya, Naya mengubah penampilannya dengan pakaian tertutup dan menggunakan hijab. Ia sadar, karena pakaian terbuka yang dipakainya membuat preman itu mengganggunya. Walaupun sudah berusaha memperbaiki dirinya, namun orang-orang masih saja memakinya. Naya tidak peduli dengan omongan orang-orang yang akan menghambat dirinya menjadi lebih baik. Ia mempunyai mimpi yang ingin diwujudkan.

Watansoppeng, 9 Februari 2022

(Visited 31 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *