Oleh: A. Zalfa Azzahra Ulum*

Beberapa waktu terakhir, saat hujan turun, aku mulai lebih sering memperhatikan diriku sendiri.

Ada satu hal yang akhirnya kusadari, aku sulit mengatakan kata “tidak”.

Aku cenderung menyesuaikan diri dengan orang lain.

Not because I want to impress anyone,

but because I do not want things to change.

Aku ingin hubungan tetap berjalan dengan baik, dan aku tidak ingin seseorang merasa terganggu oleh kejujuran yang mungkin terdengar berbeda.

Di dalam diriku, ada ketakutan yang tidak pernah benar-benar hilang. Ketakutan bahwa jika aku menolak, orang itu mungkin menjauh.

Ketakutan bahwa kejujuranku dapat membuat suasana berubah. Ketakutan bahwa kehadiranku tidak lagi dianggap sama seperti sebelumnya.

It’s not about needing approval.

It’s simply about wanting people to stay.

Aku menghargai mereka, dan aku ingin tetap bersama mereka, dalam arti yang sederhana namun tulus.

Suatu sore, sambil mendengarkan suara hujan di luar jendela, muncul pertanyaan yang selama ini tidak pernah berani kutanyakan.

Am I doing things because I truly want to, or because I’m afraid of being left behind?” Pertanyaan itu tidak menyakitkan, tetapi cukup untuk membuatku diam lama. Karena mungkin selama ini aku berusaha menjaga hubungan agar tetap utuh, sementara aku jarang menjaga perasaanku sendiri.

Hari itu, aku tidak membuat keputusan besar.

I only made a small promise to myself.

Aku akan mulai belajar jujur tentang apa yang sanggup dan tidak sanggup kulakukan. Pelan-pelan, tanpa memaksa diri. Tidak untuk membuat siapa pun tetap tinggal, tetapi agar aku juga tidak terus meninggalkan diriku sendiri.

Dan saat hujan terus turun, suasananya terasa lebih tenang. Seolah-olah langit pun memahami bahwa seseorang sedang belajar mencintai dirinya dengan cara yang sederhana.

Aku memilih judul “The Calm Between My Fears,” karena meski aku sering takut ditinggalkan atau kehilangan, aku tetap berusaha tenang dan memahami diri sendiri. Judul ini mewakili momen-momen kecil ketika aku belajar menenangkan pikiran di tengah ketakutanku.

It is okay to want people to stay.

As long as I also choose to stay with myself.

Watansoppeng, 18 November 2025

*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng kelas IX.3

(Visited 20 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *