Oleh: Adit Anugrah Pratama
Ia berdiri di ambang pintu, menatap kosong ke arah ruang yang dulu penuh tawa.
Sekarang, hanya ada bayangan dirinya sendiri yang terjebak di antara ingin pergi dan belum sanggup melepaskan.
Sunyi terasa begitu keras malam itu. Ia menunduk, menahan napas yang berat setiap kali ingatan datang silih berganti: tawa yang dulu mengisi hari, janji yang sempat terdengar pasti, dan perpisahan yang terlalu cepat terjadi.
Bukan karena ia tidak berani melangkah, tapi karena setiap langkah terasa seperti meninggalkan bagian dari dirinya sendiri.
Bagian yang dulu ia titipkan pada seseorang, dan kini tak bisa ia ambil kembali.
Ia menatap lantai yang dingin, tersenyum getir. Semua sudah berlalu, tapi entah kenapa rasa itu masih menolak pergi. Mungkin memang benar, beberapa kehilangan tidak benar-benar selesai hanya berubah bentuk menjadi sepi yang menunggu di ujung hari.
Dan malam itu, di bawah cahaya samar dari luar ruangan, ia akhirnya berbisik pelan,
“Kalau aku terlihat tenang, percayalah… itu hanya karena aku sudah lelah melawan rinduku sendiri.”
“Tidak semua yang pergi benar-benar hilang. Beberapa hanya berdiam di dalam hati, menunggu waktu untuk tidak lagi terasa sakit.”
