Aku terdiam kaku. Tidak mengerti dengan apa yang ia ucapkan. Aku bergegas keluar untuk pulang. Selama di perjalanan, kata-kata Bagas selalu berputar-putar di pikiranku. Apa maksudnya ia berkata demikian? Sungguh tak dapat dimengerti.
Setelah hampir tiga bulan berlalu, ia datang lagi padaku. Ia pergi menemuiku yang tengah asik sendirian mengerjakan tugas di cafe yang sering kami datangi dulu. Kopi Senja, tempat yang selalu aku datangi untuk menyaksikan sunset bersama Bagas dulu. Aku tak pernah membenci tempat ini terlepas dari rasa sakit karena Bagas mengunjungi tempat ini bersama wanita itu. Aku tetap menyukai tempat ini bahkan aku selalu datang dan duduk di meja yang sama seperti saat bersama Bagas kala itu. Entah dari mana dan dari siapa Bagas dapat mengetahui keberadaanku. Siang itu ia datang dan langsung duduk di hadapanku.
“Senna” ucapnya lirih
“Ehh…”
“Na, kita perbaiki semuanya ya? Aku ga bisa kalo ga sama kamu.”
“Maaf Gas, aku ga bisa, aku terlalu tajam untuk kamu yang gampang tergores,” kataku sembari membereskan barang-barang di atas meja.
“Ga pa pa Na, aku bisa terima semuanya. Aku janji ga bakal ngelakuin hal yang serupa.”
“Maaf Gas.”
“Na, please, maafin aku Na. Aku mau perbaiki semuanya, kita balik seperti dulu lagi ya.”
“Engga Gas, udah ya.”
“Aku ga bisa kalo ga sama kamu Na.”
“Aku juga ga bisa terima kamu lagi,” ucapku lantang.
“Aku butuh kamu Na, aku cuma mau kamu.”
“Kapan pun dan di mana pun jika kamu butuh aku hubungi saja. Aku akan selalu menjadi rumahmu, aku akan selalu menjadi tempat kamu pulang. Aku ga bakal biarin kamu sendirian Bagas.”
“Lalu mengapa tidak kembali bersama saja sih Na?”
“Aku hanya ingin menjadi rumahmu tanpa harus menjadikanmu rumahku.”
“Na, yang rusak hanya lampu di kamar seberang, mengapa kamu harus pindah rumah?”
“Sudah terlalu banyak retakan dinding di rumah ini, sudah terlalu rapuh kayu-kayu yang menjadi pondasi di sini, jika aku memaksa untuk tinggal, baik rumah ini maupun diriku akan saling terluka. Ini bukan perihal berapa banyak lampu yang rusak. Namun, tentang berapa lama retakan itu akan bertahan, dan menurutku ini juga tak akan bertahan lama.”
Bagas terdiam kaku. Ia meneteskan air mata dan terus menatap sendu padaku. Kutenangkan ia dengan menepuk bahunya lalu pergi menjauhi darinya.
