Bayangan Hitam di Depan Rumahmu?
Sudah tepat satu minggu Cantika absen sekolah, padahal batas ketidakhadirannya hanya tiga hari. Setiap kali guru mengabsen, aku selalu memberi tahu guru mata pelajaran bahwa temanku itu masih sakit agar namanya tidak ditulis tanpa keterangan.
Tepat hari Senin ini, Cantika kembali bersekolah. Aku berencana pagi ini akan mengajaknya berangkat bersama. Seperti biasa, aku berjalan kaki sambil menenteng tumbler berisi air minum dan bekal yang kubuat di rumah.
“Assalamualaikum, Tika! Ayo berangkat,” ucapku di depan rumahnya.
“Waalaikumsalam, tunggu! Aku pakai sepatu dulu,” jawabnya.
“Kamu benar-benar sudah sembuh? Kalau belum sembuh total, tidak usah sekolah dulu,” ucapku sambil menatapnya.
“Sudah kok, sudah mendingan. Aku takut nanti absensku banyak,” ucapnya sembari berdiri.
Kami pun berangkat bersama pagi ini. Langkah kami pelan dan tidak terburu-buru karena jam apel pagi masih lama.
“Aku kasih tahu guru kok kalau kamu sakit. Soalnya, orang tuamu cuma datang sekali untuk melapor,” ucapku.
“Iya, makasih. Kupikir mamaku sudah melapor untuk kedua kalinya, ternyata tidak. Mungkin mamaku lupa,” jawabnya.
“Memangnya kamu sakit apa? Kamu jarang sakit, tapi sekalinya sakit lama banget,” tanyaku kepadanya.
“Sepulang dari pasar malam waktu itu, badan aku sakit semua dan kepalaku terasa berat banget. Sampai-sampai aku kesulitan untuk bangun dari tempat tidur,” ucap Tika.
“Terus, siapa yang mengobati kamu?” tanyaku dengan rasa penasaran.
“Orang pintar. Setiap malam juga seperti ada orang di samping kamar, bagian luar, yang merokok. Paginya, saat dicek, memang banyak puntung rokok,” ucap Tika.
“Papa kamu sudah tidak menjaga kamu di kamar? Kenapa juga kamu tidur di kamarmu kalau sedang sakit?” ujarku.
“Menjaga. Pas malam Jumat, orang itu dikejar sama Adam karena aku bilang ada bau rokok. Terus Adam keluar untuk melihat. Orang itu lari, sedangkan Papa sama adikku tidak bisa menangkapnya. Larinya kencang sekali,” balas Tika.
“Astaga, bahaya sekali. Ternyata bisa jadi teman kakakmu atau keluargamu, mungkin?” jawabku.
“Tidak tahu. Kurasa bukan teman abangku,” balas Tika.
Tak terasa, kami sudah sampai di depan pagar sekolah.
“Nanti ceritamu dilanjutkan lagi. Takutnya ada orang lain yang mendengar selain kita,” ucapku dan dibalas anggukan oleh Tika.
Yang melaksanakan upacara kali ini adalah kakak kelas 12. Aku beserta teman-teman yang lain pun segera berbaris di lapangan untuk melaksanakan upacara bendera. Aku berdiri di barisan ketiga dari depan, sedangkan Cantika berdiri tepat di samping kiriku.
Setelah melaksanakan upacara bendera, aku dan Cantika berjalan beriringan menuju kelas. Di tengah perjalanan, kami berpapasan dengan rombongan kakak kelas 12 yang baru saja selesai bertugas.
“Dia lagi? Kenapa dia selalu menatapku?” batinku.
“Oh iya, Tika. Kamu kenal kakak kelas yang itu enggak?” Aku memberi kode kepada Tika untuk melihat ke arah depan, tempat rombongan kakak kelasku berada.
“Tidak. Kenapa? Dia ganggu kamu?” tanya Tika penasaran.
“Tidak kok, cuma dia tampan aja,” celetukku.
Saat itu aku asal menyebut saja karena bingung harus menjawab apa. Tak kusangka, Cantika menganggap celetukan asalku itu benar-benar serius.
“Cieeeee, Indah!” ejeknya.
“Sudah ah, aku capek,” jawabku sembari berlalu masuk ke dalam kelas, meninggalkan Cantika yang masih berdiri di koridor.
Aku duduk di kursiku sembari meminum air yang kubawa tadi. Tak lama kemudian, aku melihat si kembar berdiri dari kursinya secara bersamaan.
“Kalian berdua mau ke mana?” tanyaku penasaran.
“Ke kantin, beli es teh. Panas banget soalnya,” jawab Vira.
“Oh, ya sudah,” jawabku sembari mengangguk.
“Kamu mau ikut tidak?” tanya Pina kepadaku.
“Ikut ke mana?” celetuk Tika yang tiba-tiba muncul.
“Ke kantin, mau beli es teh. Mau ikut enggak?” ujar Pina.
“Tunggu, aku ambil uang dulu,” jawab Tika.
“Kalian pergi saja. Aku capek. Sebentar lagi juga guru mata pelajaran Kimia masuk,” jawabku.
Mereka pun berlalu, meninggalkanku di kelas bersama beberapa teman yang lain. Ada yang berusaha mengipasi wajahnya menggunakan buku dan ada juga yang menyeruput es tehnya.
“Apa lihat-lihat?” celetuk Faenal.
“Dih, jamet! Siapa yang lihat kamu?” jawabku sembari menoleh ke arah lain.
“Nyenyenye,” ejeknya.
“Kamu ini kenapa?” tanya Khaidir sembari menggeplak kepala Faenal.
“Apaan sih? Jauh-jauh sana, panas ini,” ujar Faenal sembari mendorong Khaidir.
“Kalian berdua gay, ya? Dekat sekali begitu. Hahaha!” tanyaku sembari tertawa.
“Dih, amit-amit!” jawab Faenal.
“Sembarangan kamu ini,” jawab Khaidir.
Tak lama kemudian, teman-temanku kembali dari kantin bersamaan dengan lonceng jam pertama berbunyi.
~Kriinggg! Kriinggg! Kriinggg!~
“Ayo, ke ruangan lab! Mata pelajaran pertama Kimia. Jangan sampai kita terlambat,” ujarku.
“Ayo!” jawab mereka serempak.
Kami berempat berjalan bersama menuju ruangan lab yang terletak di depan perpustakaan. Sesampainya di ruangan tersebut, kami melihat guru Kimia sudah berada di kursinya sembari membaca buku.
“Assalamualaikum,” salam kami.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab guruku.
“Sudah sehat, Sri Ayu?” tanya guruku kepada Tika.
“Alhamdulillah, sudah, Bu,” jawab Tika.
“Alhamdulillah kalau begitu,” ucap guruku.
Pelajaran Kimia pun berlangsung. Di tengah pembelajaran, tiba-tiba guru Kimia menghentikan penjelasannya.
“Indah, sehat?” tanya guruku secara tiba-tiba.
“Eh? Alhamdulillah, sehat, Bu,” jawabku.
Beliau pun mengangguk.
Setelah pembelajaran berlangsung, lonceng berbunyi menandakan jam pelajaran pertama telah berakhir. Selanjutnya, pelajaran kedua adalah Fisika.
Aku dan teman-temanku kembali ke kelas untuk melangsungkan pembelajaran karena pelajaran Kimia sudah selesai.
“Ada tugas enggak?” tanya Vira.
“Tidak ada sih, seingatku,” jawabku.
Vira pun menganggukkan kepalanya, pertanda dia mengerti ucapanku.
Karena guru mata pelajaran belum masuk, aku dan Cantika duduk di depan kelas. Kami mengobrol ringan sampai akhirnya tiba pada pembahasan yang terpaksa dihentikan tadi pagi.
“Waktu aku sakit, malam itu aku mau ke WC. Aku jalan sendirian keluar rumah dan membuka pintu. Saat pintunya terbuka, aku melihat ada sosok bayangan hitam yang berdiri di depan rumahku, tepat di bawah pohon mangga kecil yang ada di sana,” ujar Tika.
“Hah? Maksudnya, hantu kah?” tanyaku penasaran.
“Tidak tahu. Tapi, aku berdiri lama di depan pintu sambil memperhatikan sosok hitam yang tinggi dan besar itu. Sosok bayangan hitam itu lebih besar daripada pohon mangga tersebut. Setelah itu, Papa keluar karena melihat aku berdiri lama banget di depan pintu,” ujar Tika.
“Papa kamu melihat sosok bayangan hitam itu juga tidak?” tanyaku yang masih penasaran.
“Tidak. Jadi, sejak saat itu, kalau aku mau ke WC, aku ditemani keluar rumah sama Papa atau Adam,” jawab Tika.
Aku menganggukkan kepala sebagai pertanda bahwa aku mengerti ucapannya. Setelah itu, aku terdiam selama beberapa detik.
“Tika, persis aku banget. Kalau sakit, aku juga bisa melihat hal-hal aneh,” batinku.
“Sudah, ayo! Kita masuk kelas. Itu guru sudah mau masuk,” ujarku sembari menunjuk ke arah guru Fisika yang sedang berjalan menuju kelas kami.
Aku dan Tika beranjak dari tempat duduk untuk masuk ke dalam kelas karena guru Fisika sudah tiba.
“Assalamualaikum,” ucap guruku.
“Waalaikumsalam!” jawab kami serentak.
“Hari ini saya beri tugas kelompok saja. Saya ada urusan di luar sekolah, jadi saya beri tugas. Minggu depan tugasnya bisa dikumpulkan, ya,” ujar guruku.
“Ibu, ada berapa kelompok?” tanya Ida.
“Ada empat kelompok. Nanti saya kirim nama-nama kelompoknya di grup, ya, beserta tugasnya. Saya absen saja sekarang,” ucap guruku.
“Baik, Bu!” jawab kami serentak.
Guruku pun mulai mengabsen kami satu per satu. Hari ini kelas kami cukup ramai karena hampir 50% teman-temanku datang ke sekolah.
“Nur Indah?” panggil guruku.
“Hadir, Bu!” ucapku sembari mengangkat tangan.
Kini tibalah saat nama Cantika disebut.
“Sri Ayu Cantika?” panggil guruku.
“Hadir, Bu!” ucap Tika sembari mengangkat tangannya.
