Part 2 — Pertemuan yang Hampir Menjadi Kenangan
Karya: Andi Raka (Jhon)
Jhon tidak pernah menyangka bahwa perempuan yang kelak ingin ia perjuangkan sampai ke pelaminan adalah seseorang yang awalnya hanya ia kenal lewat sebuah foto.
Malam, 8 Agustus 2026, menjadi awal dari cerita itu. Malam ketika Jhon resmi melepas jabatannya sebagai Winner Putra Icon Model Hunt Sulselbar 2025. Di acara yang sama, ada seorang finalis Putra Putri Batik Sulselbar 2026 bernama Nay, yang berhasil meraih penghargaan Best Pariwisata Putri.
Saat itu, Jhon belum mengenal siapa Nay. Bahkan, namanya pun belum ia ketahui.
Sampai akhirnya, ketika sesi foto berlangsung, Nay menghampirinya dan meminta bantuan untuk memotret dirinya bersama para Duta Pariwisata Sulawesi Selatan 2026.
Jhon mengira itu hanya permintaan biasa. Setelah selesai memotret, Nay memasukkan nomor WhatsApp-nya ke ponsel Jhon agar foto-foto tersebut bisa dikirimkan.
Sederhana. Tidak ada percakapan panjang, apalagi perasaan istimewa.
Namun, terkadang, cerita besar memang dimulai dari hal yang tidak pernah kita curigai.
Keesokan harinya, Jhon mengunggah status WhatsApp berupa pemandangan senja di dekat persawahan. Tak disangka, Nay membalasnya.
“Kayaknya itu di Jepot, ya?”
“Iya, aku singgah sebentar doang,” jawab Jhon.
Dari percakapan sederhana itu, mereka mulai saling bertanya tentang tempat tinggal, sekolah, dan hal-hal kecil lainnya. Pada 24 Agustus, obrolan mereka semakin asyik. Jhon mulai menikmati kehadiran Nay, meskipun ia masih menyimpan banyak keraguan.
Hingga 30 Agustus, Jhon memilih menjauh.
Ia berpikir, untuk apa terus mengobrol jika mungkin Nay memiliki banyak orang lain yang lebih menarik untuk diajak berbicara? Ia meragukan dirinya sendiri, bahkan sempat membiarkan prasangka mengalahkan kesempatan untuk mengenal Nay lebih jauh.
Akhirnya, mereka kehilangan kontak.
Jhon mengira cerita itu selesai sebelum benar-benar dimulai.
Namun, pada 12 September 2026, takdir kembali mempertemukan mereka di Makassar.
Malam itu, Nay mengunggah status bahwa ia sedang berada di suatu tempat sendirian. Jhon membalas, bertanya dengan siapa Nay dan hendak ke mana.
“Sendiri di sini,” jawab Nay.
Hari sudah larut. Pusat perbelanjaan mulai tutup, dan Jhon khawatir Nay pulang sendirian pada malam hari. Bersama temannya, Rev, ia memutuskan untuk menghampiri Nay.
Mereka berbincang hingga lewat tengah malam. Ketika Nay akhirnya memesan Grab untuk pulang, Jhon ikut kembali bersama Rev.
Anehnya, setelah memastikan Nay sudah berada di mobil dan dalam perjalanan, ada sesuatu yang berubah di hati Jhon.
Perasaan yang sempat ia abaikan perlahan tumbuh kembali.
Kali ini, ia mulai jatuh cinta.
Meski begitu, Jhon belum sepenuhnya mampu menyingkirkan keraguannya.
Dua hari kemudian, pada 14 September, Jhon kembali ke Bulukumba. Mereka berjanji bertemu di Stadion Jeneponto. Di tempat itulah Jhon mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada Nay.
Namun, perjalanan mereka belum selesai.
Sekitar 27 September, Jhon melakukan kesalahan yang belakangan membuatnya banyak berpikir. Ia sengaja membuat sebuah prank seolah-olah ada orang ketiga dalam hubungan mereka, dengan maksud menguji respons dan keseriusan Nay. Selama hampir seminggu, ia jarang memberi kabar, sampai temannya memperlihatkan percakapan rekayasa itu kepada Nay.
Dari kejadian tersebut, Jhon mulai menyadari bahwa kepercayaan tidak seharusnya diuji dengan cara yang justru bisa melukai seseorang.
Ia tidak ingin sekadar mendengar Nay berkata serius. Ia ingin belajar menjadi pasangan yang mampu membangun keseriusan itu bersama-sama, tanpa permainan yang membuat hati bertanya-tanya.
Kini, Jhon memiliki harapan yang lebih besar daripada sekadar menjadikan Nay kekasihnya.
Ia ingin memperbaiki dirinya, menyelesaikan tanggung jawabnya, mengejar masa depannya, dan suatu hari nanti datang menemui orang tua Nay dengan niat yang sungguh-sungguh.
Ia ingin membuktikan bahwa perasaannya bukan sekadar ucapan manis seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta.
Namun, apakah dua orang yang awalnya dipertemukan oleh sebuah foto, dipisahkan oleh keraguan, lalu dipertemukan kembali oleh keadaan, benar-benar bisa sampai ke akhir cerita yang mereka harapkan?
Jhon belum mengetahui jawabannya.
Yang ia tahu, kali ini ia tidak ingin membiarkan prasangkanya sendiri membuatnya kehilangan seseorang yang berharga.
Bersambung ke Part 3.
