(Maaf, Saya Pamit Pergi)
Setelah Puang Tahi tiba di rumah, beliau langsung menyuruh papaku untuk menutup pintu agar aku tidak bisa lari. Sebab, menurut Puang Tahi, sosok yang ada di tubuhku bisa mengambil kesempatan untuk membawaku pergi jika mereka lengah.
Sesi pengobatan pun berlangsung cukup lama. Bahkan, dibutuhkan tiga orang dewasa untuk menahanku. Aku tidak segan-segan memukul orang yang sedang memegangiku. Salah satu korbannya adalah pamanku sendiri.
“Pukulannya kuat juga, kamu ini petinju atau apa?” kata pamanku setelah menerima pukulan dariku.
Saat pengobatan berlangsung, sosok yang berada di tubuhku mengaku bahwa ia memang tidak pernah benar-benar melepaskanku. Ia selalu memantaiku tanpa kusadari. Ia juga tahu kapan aku pergi dan pulang sekolah karena selalu melihatku dari kejauhan.
“Kamu juga yang memberikan bunga indah di dalam mimpinya?” tanya mamaku sembari menangis.
“Iya, Tante. Saya sosok itu. Namun, pemberian saya tidak diambil. Padahal, jika Indah mengambilnya, saya akan lebih mudah membawanya pergi. Hahaha!” jawab sosok itu.
Setelah berbicara seperti itu, ia pun memohon ampun agar dilepaskan dan berjanji tidak akan menggangguku lagi.
“Malam sebelumnya, kamu juga sudah berjanji untuk tidak mengganggu Indah, tetapi kamu tetap bermain-main,” ucap bibiku.
Saat itu, sosok yang berada di tubuhku kembali meminta agar dilepaskan. Ia bahkan bersujud di hadapan mama, papa, dan seluruh keluarga inti yang ada di rumahku malam itu. Ia juga meminta maaf karena telah menggangguku.
Setelah berkali-kali memohon ampun, ia pun berpamitan untuk pergi. Ia meminta agar pintu rumahku dibuka karena dirinya sudah hendak pergi. Puang Tahi pun mengizinkan pintu rumahku dibuka.
Tak lama kemudian, aku terkulai dalam keadaan tidak sadarkan diri. Keluargaku panik ketika melihatku tidak kunjung membuka mata.
“Biarkan dulu. Dia memang sudah mau pergi,” ucap Puang Tahi.
Selang beberapa menit kemudian, aku pun sadar. Kalimat pertama yang keluar dari bibirku adalah pertanyaan tentang masakanku. Sebab, yang kuingat malam itu adalah aku sedang memasak.
“Mama, masakanku sudah jadi, kan? Tinggal aku makan, ya?” tanyaku.
Mamaku menjawab bahwa masakanku sudah selesai dan aku tinggal memakannya. Namun, aku harus beristirahat terlebih dahulu.
“Indah, matamu tidak perih?” tanya bibiku.
“Tidak kok. Aku tidak merasakan perih sama sekali. Tapi, mataku terasa seperti bengkak habis menangis. Aku sudah menangis, ya?” jawabku.
Puang Tahi pun menyuruh mamaku untuk meneteskan air yang telah didoakan ke mataku.
“Alhamdulillah, dia betulan pergi,” ucap keluargaku dengan lega.
Aku pun duduk bersila dan melihat-lihat ke sekelilingku. Ternyata, ada banyak keluarga dari pihak papaku yang datang. Ada bibi dan pamanku juga. Mereka tampak lega melihatku kembali sadar.
“Kamu pernah menolak laki-laki, Nak?” tanya mamaku sembari menatapku.
“Tidak, Ma. Aku juga tidak pernah dekat dengan laki-laki,” jawabku.
Adikku pun memeriksa ponselku untuk memastikan ucapanku. Ia memeriksa seluruh media sosialku, tetapi tidak menemukan apa pun yang mencurigakan.
“Yang membuat kamu begini itu laki-laki, Nak. Dia mau sama kamu, tetapi kamu tidak menerima bunganya,” ucap mamaku.
Ucapan mama mengingatkanku pada mimpi yang kualami sebelumnya. Aku memang tidak menerima pemberian sosok tersebut karena aku tidak mengenalnya. Ternyata, sosok itulah yang membuatku mengalami kejadian seperti ini.
Bagaimana jika aku menerima bunganya? Mungkin saja saat ini aku sudah berpisah dengan keluargaku.
“Loh, kenapa harus diterima? Aku tidak kenal orang itu. Wajahnya juga tidak kelihatan dalam mimpiku,” ucapku malam itu.
Setelah sesi pengobatan malam itu, aku kembali ceria seperti sedia kala. Aku kembali jahil kepada keluargaku dan suka bercanda bersama orang tuaku.
Namun, setelah kejadian yang kualami, aku merasa masa putih abu-abuku saat ini terasa kurang lengkap. Aku banyak absen sekolah dan baru kembali masuk ketika ujian akhir semester sudah berlangsung.
Setelah diobati malam itu, aku tetap melanjutkan pengobatan ke rumah sakit karena sesekali kepalaku masih terasa sakit. Namun, dokter tidak memberiku obat pereda nyeri. Dokter hanya memberiku vitamin, dan aku pun tidak banyak bertanya.
Hari ini, aku kembali bersekolah. Namun, kali ini aku berangkat sendiri karena Cantika belum selesai bersiap-siap. Ia menyuruhku untuk berangkat lebih dahulu.
Aku pun berjalan kaki ke sekolah sendirian. Saat tiba di sekolah, ternyata aku sudah sangat terlambat untuk mengikuti apel pagi. Aku berlari kecil memasuki pekarangan sekolah karena murid yang terlambat dan harus berbaris ternyata hanya aku seorang dari kalangan adik kelas.
Seketika, semua mata tertuju kepadaku. Aku menundukkan kepala karena malu dilihat oleh kakak-kakak kelasku.
Tak lama kemudian, seorang kakak OSIS memberiku buku album untuk mencatat nama dan kelasku agar bisa diserahkan kepada guru piket.
Setelah mengikuti apel pagi, aku mendapat hukuman mencabut rumput di belakang kantor sekolah. Aku tidak sendirian. Ada dua kakak kelasku, yaitu Rendi dan Haikal.
Rendi, yang merupakan kakak dari si kembar, menyuruhku mengambil sampah kertas saja. Namun, aku menolak dan tetap mengikuti perintah OSIS sebelumnya.
Menurutku, sesi hukumanku tidak begitu membosankan karena ada kakak kelas yang menemaniku. Tak lama kemudian, Cantika tiba di hadapanku. Ia pun ikut berjongkok dan mencabut rumput bersama kami.
“Ini dua sahabat sama-sama terlambat, padahal masih kelas X,” ucap Rendi sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Aku tidak menggubrisnya karena menurutku hal itu tidak penting.
“Biarlah, cabut saja cepat-cepat agar hukuman kita cepat selesai,” kataku.
Tak lama kemudian, aku dan Cantika berdiri lalu meninggalkan mereka berdua karena kami sudah diizinkan masuk ke dalam kelas. Sebelum masuk, aku mencuci tangan terlebih dahulu.
Setelah jam pelajaran pertama selesai, aku dan Cantika memutuskan untuk mengobrol di depan perpustakaan. Kami berbincang cukup lama hingga tidak sadar bahwa sudah waktunya masuk kembali ke kelas.
Walaupun tidak ada materi pelajaran, kami tetap diwajibkan berada di dalam kelas dan tidak diperbolehkan berkeliaran di luar.
Waktu pulang sekolah pun tiba. Namun, sebelum pulang, kami harus mengikuti apel siang terlebih dahulu untuk mendata siapa saja yang bolos pada siang itu. Setelah apel selesai, kami diizinkan pulang ke rumah masing-masing.
Kini, aku sudah tiba di rumah. Namun, aku tidak melihat sosok mamaku. Rumah tampak sepi.
“Assalamualaikum! Ma?! Maa?!”
Aku berteriak memanggil mamaku.
“Di sini!” balas mamaku.
Ternyata, beliau sedang berada di rumah bibiku.
Aku pun masuk ke kamar dan menyempatkan diri untuk menulis di buku harianku. Aku menuliskan apa pun yang ada di pikiranku. Setelah menulis beberapa kalimat di lembaran buku harianku, aku memutuskan untuk tidur siang.
Malam pun tiba. Aku memutuskan untuk membaca novel. Namun, tanpa kusadari, waktu sudah menunjukkan pukul 01.36 dini hari.
Aku memang selalu seperti itu jika sudah berhadapan dengan novel. Aku sering kebablasan membaca hingga larut malam. Akhirnya, aku memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum matahari terbit dan menampakkan keindahannya.
Hari ini hari Kamis. Aku kembali bersekolah seperti biasa, ditemani oleh sahabatku. Aku sudah ceria seperti sedia kala. Namun, sepertinya hanya aku yang terlihat bahagia. Sahabatku, Cantika, justru tampak murung.
“Kamu kenapa diam saja? Ada masalah, ya?” tanyaku dengan hati-hati karena Cantika sangat sensitif ketika suasana hatinya sedang buruk.
“Papaku tahu kalau impianku adalah sekolah pelayaran. Semalam, aku mendengar papaku berbicara di telepon dengan sepupuku. Mereka membahas impianku itu dan menyarankan agar aku pindah ke Sulawesi Selatan untuk bersekolah sesuai dengan jurusan yang kuinginkan,” jawab Cantika.
Aku terdiam selama beberapa menit setelah Cantika selesai bercerita. Aku mencoba berpikir dan mencari cara untuk memberinya saran.
“Hmm, kamu benar-benar ingin sekolah pelayaran, ya? Kalau memang itu yang kamu inginkan, kamu bisa mempertimbangkan ajakan sepupumu. Tapi, saranku, pikirkan baik-baik dulu. Kalau kamu pindah, bagaimana dengan orang tuamu? Apa kamu siap tinggal jauh dari mereka?” tanyaku.
“Tidak. Aku juga tidak bisa jauh dari mamaku,” jawab Cantika.
Aku pun mengangguk, menyetujui ucapannya.
“Kamu juga bakal repot, lho, kalau mencari sahabat seperti aku. Soalnya, aku tidak ada duanya di dunia ini. Walaupun kamu mencariku ke mana-mana, kamu tidak akan menemukan yang seperti aku. Hahaha!” candaku.
Aku mengucapkannya sembari tertawa. Namun, jauh di lubuk hatiku, aku sebenarnya tidak rela jika harus berpisah dengan Cantika. Bagiku, Cantika bukan sekadar sahabat. Ia adalah seseorang yang telah menemani hari-hariku, dan membayangkan kepergiannya saja sudah membuatku merasa kehilangan.
Berikut versi yang telah diperbaiki tanda baca, ejaan, huruf kapital, dan penulisan kalimatnya. Gaya bahasa santai dalam dialog serta alur cerita aslinya tetap dipertahankan agar terasa natural sebagai novel remaja.Menulis
Dia pun kembali tertawa.
“Dih, kamu jamet deh, Ndah!” ledeknya.
Cantika kemudian berdiri dan meninggalkanku untuk masuk ke dalam kelas. Aku tidak mengikutinya karena masih betah duduk di depan kelasku.
Saat itu, aku kembali memikirkan ucapan Cantika yang ingin bersekolah di jurusan impiannya. Sebenarnya, aku akan selalu mendukung apa pun keputusan yang dia ambil. Namun, aku juga tidak bisa berbohong bahwa hanya dia sahabat yang benar-benar kupercaya.
“Ayo ke kantin! Kamu mau ikut enggak?” ajaknya tiba-tiba sambil menongolkan kepala dari belakangku.
“Ayo deh, aku juga mau jajan,” jawabku.
Aku pun berjalan beriringan dengannya menuju kantin sekolah. Ternyata, kantin lumayan ramai dan dipenuhi oleh kakak-kakak kelas laki-laki.
“Mereka kenapa nongkrong di kantin, sih? Memenuhi tempat duduk saja. Mana berisik banget lagi, pakai main gitar segala,” bisikku kepada Cantika.
Namun, Cantika hanya tertawa. Setelah itu, dia kembali memasang wajah datarnya.
Terkadang, aku heran melihat orang-orang yang bertemu dengan Cantika. Mereka selalu takut melihat tatapannya karena katanya sangat tajam. Padahal, menurutku, mata Cantika memang sipit. Dia terlihat seperti orang Tionghoa, meskipun sebenarnya dia tidak memiliki darah keturunan Tionghoa.
Setelah itu, kami berdua memasuki kantin. Tak lupa, kami mengucapkan permisi kepada kakak-kakak kelas karena kaki mereka diselonjorkan hingga menghalangi jalan kami. Untungnya, mereka menyadari hal itu dan segera memberi kami jalan.
Aku menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat jajanan yang tersedia. Namun, tanpa sengaja, tatapanku bertemu dengan sepasang mata yang ternyata juga sedang menatapku.
Aku buru-buru memalingkan wajah dan menggenggam tangan Cantika.
Itu dia kenapa, ya, menatapku begitu? batinku.
Setelah keluar dari kantin, aku buru-buru memberi tahu Cantika tentang kakak kelas yang kulihat tadi.
“Kamu tadi lihat tatapan kakak kelas kita yang duduk di pojok itu? Yang pendek, lho,” tanyaku.
Sebelum menjawab, Cantika menyeruput es tehnya terlebih dahulu.
“Ohh, jamet itu? Dia kenapa?” tanyanya.
Aku heran dengan sahabatku yang satu ini. Di matanya, hampir semua kakak kelasku yang laki-laki disebut jamet.
“Dia melihat ke arah kita terus tadi. Dia memang begitu, ya?” tanyaku karena aku tidak terlalu mengenal kakak kelas selain Rendi dan Haikal.
“Ohh, dia memang begitu. Aku enggak pernah melihat dia bicara sama teman-temannya. Sepertinya, dia tipe pendiam,” jawab Cantika.
Aku pun mengangguk-anggukkan kepala, seolah-olah mengatakan bahwa aku mengerti.
Setibanya di kelas, aku melihat suasana yang sepi. Hanya ada Sapina dan Savira di dalam kelas. Mereka tampak sedang bermain gim bersama.
Aku berjalan menuju bangkuku, sementara Cantika menghampiri Savira. Sepertinya, suasana hatinya sudah membaik dan dia berniat mengganggu Vira yang sedang asyik bermain gim.
Aku menelungkupkan tangan di atas meja, lalu merebahkan kepala menghadap ke arah tembok. Aku hanya berniat memejamkan mata sejenak, bukan untuk tidur. Namun, entah mengapa, rasa kantuk tiba-tiba menyerangku.
Tanpa kusadari, aku tertidur di kelas. Mungkin karena suasananya begitu sunyi. Bahkan, suara ponsel si kembar pun tidak terdengar.
“Indah, Indah, bangun! Sudah mau pulang, kita!” Vira berusaha membangunkanku.
Aku pun tersentak, seolah-olah baru saja disadarkan dari dunia lain.
“Astaga, aku ketiduran! Ada guru, ya?” tanyaku.
“Enggak ada guru. Aku cuma membangunkanmu karena kita sudah mau pulang,” jawab Vira.
Aku lalu melihat ke sekeliling. Teman-temanku sudah mulai keluar dari kelas, menyisakan aku dan ketiga temanku saja.
Eh, tunggu! Aku baru menyadari bahwa Cantika tidak ada di kelas.
“Ke mana Cantika?” tanyaku langsung kepada Sapina. Bertanya kepada Savira sepertinya akan sia-sia karena dia sudah terlalu fokus bermain gim.
“Cantika ke WC tadi,” jawab Sapina.
Aku pun berniat menyusulnya. Namun, ternyata Cantika sudah kembali.
“Ayo pulang! Aku rasanya ngantuk banget, deh,” ajak Cantika.
Dia mengambil tasnya, lalu kami berdua berpamitan untuk pulang lebih dahulu, meninggalkan si kembar yang masih ingin tinggal di sekolah.
Di perjalanan pulang, kali ini Cantika yang memimpin topik pembicaraan, sementara aku masih merasa mengantuk.
“Tadi, kakak kelas yang kamu bicarakan waktu di kantin itu duduk di kursiku. Soalnya, aku sama Sapina ke kantin buat beli es teh,” ucapnya kepadaku.
Aku pun berpikir sejenak. Aku sama sekali tidak merasakan adanya gerakan dari kursi di belakangku, tempat Cantika biasa duduk. Kalau memang kakak kelasku itu duduk di kelas, berarti dia melihatku sedang tidur, dong?
“Terus, gimana? Dia lihat aku? Ngapain dia ada di kelas kita?” tanyaku bertubi-tubi.
Namun, sebelum Cantika sempat menjawab, pembicaraan kami harus berakhir karena dia sudah tiba di rumahnya. Aku pun harus segera pulang karena hari sudah menunjukkan pukul satu siang.
Berikut naskah yang telah diperbaiki dari segi ejaan, tanda baca, huruf kapital, dan struktur kalimat. Alur cerita serta gaya bahasa santai khas novel remaja tetap dipertahankan agar ceritanya terasa alami dan nyaman dibaca.Menulis
Kini aku telah tiba di rumah. Rasanya sangat lelah berjalan kaki di bawah terik matahari. Setelah bersih-bersih, aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur sembari bermain ponsel. Tak terasa, rasa kantuk kembali menyerangku. Aku pun memutuskan untuk tidur sejenak.
Malam telah tiba. Malam ini, aku diajak teman-temanku untuk pergi ke pasar malam yang berada di Lasusua. Namun, aku menolak ajakan mereka karena merasa malas keluar malam itu.
Ting… Ting… Ting…
Notifikasi WhatsApp dari ponselku berbunyi.
“Kamu mau ikut ke pasar malam nggak?”
“P, Indah, uhuyy!”
“Indahhhhh!”
Aku bergegas mengecek ponsel dan melihat notifikasi dari Cantika, sahabatku. Dia memang selalu mengajakku pergi.
“Aku nggak pergi. Kamu saja sama teman-teman. Aku malas,” balasku.
Aku juga berpesan kepadanya agar berhati-hati saat mengendarai motor. Setahuku, malam itu Cantika pergi bersama teman-teman sekelas kami yang lain.
Setelah saling membalas pesan, aku memilih membaca novel melalui aplikasi Wattpad. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Aku pun memutuskan untuk tidur karena rasa kantuk mulai terasa semakin berat.
Pagi harinya, aku kembali berangkat sekolah seorang diri. Aku sempat mampir ke rumah Cantika, tetapi dia tidak berangkat sekolah karena merasa tidak enak badan setelah pulang dari pasar malam semalam.
Setibanya di sekolah, aku melihat Savira sedang sendirian. Aku pun menghampirinya.
“Kamu sendirian ke sekolah? Ke mana Sapina?” tanyaku.
“Dia sakit perut, makanya nggak masuk sekolah. Lalu, mana besti-mu? Kenapa dia nggak masuk sekolah?” tanyanya kepadaku.
“Ohh, dia juga lagi nggak enak badan, katanya. Makanya, nggak masuk sekolah. Jadi, kita cuma berdua, nih?” tanyaku lagi.
“Iyalahhhh!” jawabnya dengan nada sewot.
Aku hanya cengar-cengir menatapnya. Kemudian, aku duduk di kursi milik Cantika karena merasa kesepian jika harus duduk sendirian di bangkuku sendiri, sementara kursi Cantika kosong.
Aku memutar badan menghadap Savira dan melihatnya sedang mengerjakan tugas matematika.
“Kamu belum selesai, ya?” tanyaku saat melihat tugasnya.
“Belum. Kamu sudah selesai?” tanyanya kembali.
“Sudah. Kamu lihat saja bukuku, soalnya sebentar lagi jam pelajaran matematika. Takutnya kamu belum selesai, sementara gurunya sudah masuk.”
Aku menyerahkan buku tugasku kepadanya untuk disalin. Aku merasa kasihan melihatnya, jadi aku berinisiatif untuk membantunya.
Tak lama kemudian, bel berbunyi, menandakan bahwa pelajaran pertama akan segera dimulai. Aku kembali menghadap ke depan untuk menyiapkan peralatan belajarku.
Setelah itu, Vira mengembalikan bukuku.
“Nih, buku kamu. Terima kasih,” katanya.
“Sama-sama,” jawabku.
Aku juga menyuruhnya sekalian mengumpulkan buku tugasnya ke meja guru bersama bukuku. Dia pun berjalan ke meja guru di depan kelas untuk menyerahkan kedua buku tersebut.
Kami kemudian memulai kegiatan belajar seperti biasa.
Ketika jam pelajaran pertama hampir selesai, guru mata pelajaranku, Pak Arwan, mengabsen kami terlebih dahulu sebelum meninggalkan kelas.
“Kita absen dulu, ya. Dengarkan namanya baik-baik,” ujar beliau.
Pak Arwan mulai memanggil nama kami satu per satu. Ketika tiba giliran Cantika dan Sapina, aku segera menjawab.
“Cantika dan Sapina sakit, Pak,” ucapku.
“Sakit apa mereka?” tanya Pak Arwan.
“Sapina sakit perut, kata kembarannya, Pak. Kalau Cantika demam,” jawabku.
Namun, ternyata jawabanku tidak diterima begitu saja oleh teman sekelasku yang bernama Faenal Akbar.
“Mana suratnya? Kalau tidak ada suratnya, berarti bohong,” ucapnya sembari menatapku dengan sinis. Tangannya yang memegang buku tak lupa digunakan untuk mengipasi wajahnya.
Teman sekelasku yang satu itu memang sedikit cerewet. Aku sampai dibuat jengkel olehnya.
“Memang tidak ada suratnya, Pak. Tapi, tadi saya sempat mampir ke rumah Cantika. Nah, kalau Sapina sakit, dia kan serumah dengan Savira karena mereka kembar,” jawabku sembari melirik Faenal dengan sinis.
Guruku pun mengangguk-anggukkan kepala.
“Sudah, sudah, jangan berdebat. Faenal ini seperti cewek, tidak mau mengalah,” ujar Pak Arwan.
“Dia memang berjiwa cewek, Pak, makanya cerewet sekali,” jawabku sembari tertawa kecil.
Jawabanku disambut tawa teman-teman yang lain.
Setelah drama singkat yang terjadi di kelasku, Pak Arwan pun berjalan keluar dan meninggalkan kelas.
Aku segera bergegas menuju meja guru untuk mengecek daftar absensi kelasku. Aku mencari nama Cantika dan Sapina, dan ternyata dugaanku benar.
“Alhamdulillah, keterangan mereka tertulis sakit di sini,” ucapku lega.
Aku kemudian berjalan kembali menuju bangkuku.
“Indah, ayo ke kantin!”
Ajakan mendadak dari Asisah berhasil menghentikan langkahku.
“Kamu saja. Aku belum lapar, sih. Lagian, ini kan masih jam belajar,” jawabku sembari melanjutkan langkah yang sempat terhenti.
“Gurunya nggak ada, kok. Ayolah, Ndah! Ajak Vira juga!” bujuk Asisah.
Tanpa perlu kuberi tahu, ternyata Vira sudah mendengar ajakan itu.
“Ayo, deh, ke kantin. Gurunya juga belum masuk, nih,” sahut Vira.
Aku pun menghela napas pelan dan berdiri untuk mengikuti langkah mereka berdua. Namun, sebelum pergi, aku mengambil tumbler air minumku terlebih dahulu dan membawanya ke kantin.
Kami bertiga berjalan beriringan menuju kantin. Ternyata, kantin sangat sepi. Hanya ada kami bertiga dan ibu kantin.
“Kamu mau makan nasi kuning?” tanya Asisah sembari mengambil semangkuk nasi kuning yang terletak di atas meja kantin.
Nasi kuning di kantin sekolahku memang sudah disiapkan dalam mangkuk bakso agar memudahkan para siswa mengambilnya sendiri tanpa harus menunggu terlalu lama.
“Iya, aku ambil satu juga,” jawab Vira.
Aku pun mengikuti mereka dan mengambil satu mangkuk nasi kuning.
Setelah itu, kami duduk di kursi panjang yang disediakan kantin, dengan meja panjang terbentang di depan kami. Kami pun menikmati makanan masing-masing.
“Tugas matematika kamu selesai tadi?” tanya Asisah sembari mengambil bakwan jagung di hadapannya.
“Iya, sudah,” jawabku.
Aku menjadi orang pertama yang menyelesaikan makan. Sembari menunggu kedua temanku yang duduk di hadapanku selesai makan, aku berdiri dan berjalan menuju cermin di sudut kantin. Aku ingin memeriksa jilbabku yang terasa kurang rapi.
Setelah selesai merapikan jilbab, aku melihat pantulan Asisah dan Savira di cermin. Ternyata, mereka juga sudah selesai makan.
Aku pun berjalan menghampiri mereka.
“Ayo, sudah selesai, kan?” tanyaku sembari menenteng tumbler Labubu milikku.
“Tunggu sebentar, aku minum dulu,” jawab Asisah.
Aku pun menunggunya. Setelah selesai minum dan membayar makanan kami, kami bergegas keluar dari kantin dan berjalan kembali menuju kelas.
Di tengah perjalanan, aku melihat segerombolan siswa kelas XII sedang berkumpul di depan kelas mereka. Aku dan kedua temanku hanya berjalan santai melewati rombongan kakak kelas itu tanpa menoleh ke arah mereka.
Sepertinya, mereka juga sempat melirik kami sekilas saat kami melintas di hadapan mereka.
