Oleh : Rima Novita Dewanti
Namanya Muhammad Rizal. Dia bersekolah di sebuah SMP Negeri di daerahnya. Sekolah itu terkenal favorit di kalangan masyarakat. Rizal masuk ke sekolah tersebut jalur beasiswa, karena memiliki prestasi yang sangat baik. Rizal tidak mendaftar jalur mandiri karena ia berasal dari keluarga kurang mampu.
Saat Rizal tengah berjalan menuju kelas, tiba-tiba ia..
Brukkkk!!!
Buku yang dipegang Satria terjatuh tepat di depan Rizal. Ia langsung memungutnya dan ternyata buku itu sobek saat hendak ia ambil.
“Kamu ngapain sih pegang-pegang buku aku, jadi rusak kan! Aku ga mau tau. Pokoknya ganti buku dongeng punyaku!” Rengek Satria.
”Tapi kan aku gak sengaja, lagian ini kan kecelakaan. Aku gak bermaksud mau rusakin buku kamu. Aku cuman mau bantu kamu ambilin buku kamu yang jatuh,” jelas Rizal sembari gemetar karena dia tidak punya uang untuk menggantinya.
Satria mengancam Rizal jika tidak mengganti bukunya selama 1 minggu, maka ia akan meminta ganti 2x lipat dari harga buku tersebut. Rizal sangat bersusah hati. Ia menangis karena tidak punya uang untuk menggantinya.
Lalu tiba tiba Rafi, Bela, dan Cantika datang dan bertanya kepada Rizal yang tengah tertunduk.
“Hey Rizal, mengapa kamu diam saja,” tanya Rafi.
“Astaga Rizal, kamu menangis? Apa yang membuatmu bersedih teman?” Tanya Cantika.
Rizal masih belum menjawab dan air matanya semakin deras menetes dari matanya.
“Rizal! Bilang saja jika ada yang mengganggumu. Aku akan memukulnya,” ucap Bela si anak tomboy.
“Tidak teman-teman. Sama sekali tidak ada yang menggangguku, sungguh,” Rizal menya.nyakinkan mereka.
Lalu datang Satria dengan raut wajah kesal.
“Asal kalian tau, dia telah merusak buku kesayanganku. Jadi tidak ada salahnya dong jika aku meminta ganti rugi?” Jelas Satria.
“Apa benar yang Satria ucapkan?” Tanya bela kepada Rizal.
Lalu Rizal menjelaskan bahwa ia tidak sengaja merobek buku milik Satria, karena niatnya hanya untuk membantu Satria untuk mengambil bukunya.
“Halah, jangan dengerin dia. Aku ga mau tau ya, pokoknya aku kasih waktu satu minggu. Jika tidak, aku meminta 2× lipat gantinya.”
“Akan kupukul kau,” ucap Bela.
“Ayo pukul aku. Setelah kau memukulku, akan aku laporkan kepada ayahku,” Satria memanglah anak manja,karena Satria anak dari orang kaya, jadi tidak ada yang berani kepada Satria. Satria pergi meninggalkan mereka.
“Ga pa pa Rizal, kita akan bantu kamu kok. Tenang aja, ga usah nangis. Apa artinya persahabatan jika tidak mau saling menolong,” ucap Rafi.
“Iya Rizal, kamu jangan merasa sendiri, ada kita disini” tutur Cantika.
“Aku punya ide, gimana kalo kita sisihkan uang jajan kita buat bantu Rizal,” Bela mengusulkan ide.
”Ayookkkk,” ucap Cantika dan Rafi kompak.
Rizal merasa bersalah karena telah merepotkan teman-temannya.
Selama enam hari, Cantika, Rafi, dan Bela menyisihkan uang jajan mereka. Bahkan mereka tidak jajan selama enam hari demi membantu Rizal temannya. Rizal tidak bisa apa-apa, karena dia jarang dikasih uang jajan disebabkan ekonomi keluarganya yang krisis,jadi Rizal tidak pernah meminta uang jajan. Orang tua Rizal pun sering merasa sedih, karena ia tidak bisa memberikan apa yang orang lain berikan untuk anaknya karena keterbatasan ekonomi.
Keesokan harinya, Rizal datang dengan muka tertunduk saat berjalan melewati Satria.
“Heh anak miskin, pasti kamu ga bisa kan ganti buku punyaku? Makanya, kalo miskin diem aja, jangan banyak tingkah sok soan mau bantuin aku,” ucap Satria.
Tiba-tiba Rafi datang.
“Heh anak manja, jangan ganggu terus Rizal dong. Tenang aja, Rizal bakal ganti buku kamu. Lagian masih ada lima hari lagi kan?” ucapan Rafi membuat Satria terdiam dan pergi
Enam hari sudah berlalu, akhirnya uang yang mereka kumpulkan sudah terkumpul.
“Alhamdulillah, akhirnya uang kita terkumpul. Jadi siapa yang mau pergi buat membeli bukunya?”tanya Cantika.
“Aku aja, sekalian mau ikut ibu ke pasar,” tutur Rafi.
“Ya udah, awas jangan lupa ya Raf”ucap Bela.
Keesokan harinya, mereka memberikan buku itu kepada Satria, dan Rizal sangat berterima kasih kepada teman-temannya karena sudah mau membantunya, dan ada disaat Rizal tak tau harus berbuat apa. Lalu mereka mengantar Rizal untuk memberikan buku itu kepada Satria.
“Satria, maafin aku yah karena udah gak sengaja merusak buku kamu,” ucap Rizal
“Ga usah minta maaf, lagian kan kamu gak sengaja”tutur Bela.
“Hushhh Bela, udah, jangan memperkeruh suasana,” tegas Cantika.
“Sinihhhh!” Satria mengambil buku itu lalu pergi tanpa ucapan terima kasih.
“Sekali lagi, makasih ya temen-temen. Kalian memang sahabat-sahabat terbaikku. Maafin aku udah nyusahin kalian,” ucap Rizal sambil menangis haru.
“Ga pa pa Rizal, kita kan..”
“Best friends forever,” ucap Rafi,Cantika,dan Bela kompak.
Akhirnya Rizal tidak merasa sedih lagi, dan Satria pindah dari sekolah itu karena pindah rumah. Mereka semakin nyaman di sekolah, karena sudah tidak ada yang sok berkuasa lagi.
