Oleh: Nurul Saadah*
Hujan baru saja reda ketika Raka duduk di anak tangga depan aula seni sekolahnya. Lantai kayu masih terasa lembap, dan udara membawa sisa aroma tanah basah yang menenangkan. Di pangkuan Raka, sebuah gitar tua berwarna cokelat dipetik perlahan, melantunkan nada sederhana yang tak pernah ia pamerkan kepada siapa pun.
Di sampingnya, Aleya duduk dengan kedua tangan bertumpu di lutut, tubuhnya sedikit condong ke arah Raka. Rambut Aleya terurai panjang, sesekali terusik angin yang menyelinap masuk melalui jendela terbuka. Gadis itu tak berkata apa-apa, hanya menyimak seakan setiap petikan gitar Raka menyimpan banyak cerita yang ingin ia pahami.
“Kenapa kamu selalu bermain gitar setelah hujan?” tanya Aleya pelan, memecah keheningan.
Raka menjawab sembari menyunggingkan senyum kecil, “Soalnya, setelah hujan, semuanya terasa lebih jujur. Begitu pun dengan bunyi gitar.”
Aleya menatap wajah Raka, lalu beralih ke jari-jari pemuda itu yang menari pelan di atas senar. Ia tahu Raka bukan tipe yang banyak bicara. Namun, lewat musik, Raka menyuarakan rindu yang tak sempat ia sebutkan dan mimpi-mimpi yang belum berani ia ucapkan.
Petikan gitar itu terhenti. Raka menoleh, dan tatapan mereka bertemu. Tak ada janji, tak ada kata cinta. Hanya senyum tipis yang terasa cukup untuk mengisi sore itu.
Di luar, gumpalan awan mulai terbelah. Cahaya matahari menyelinap masuk, memantulkan kilau di lantai kayu yang masih basah. Aleya sadar, mungkin tak semua perasaan harus diberi nama. Ada yang cukup didengarkan, seperti lagu sederhana yang lahir setelah hujan.
Dan di sore itu, di antara senyap dan nada, mereka belajar satu hal: kebersamaan bukan selalu tentang kata-kata. Terkadang, cukup dengan duduk bersebelahan dan membiarkan waktu berjalan.
Watansoppeng, 17 Januari 2026
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng Kelas 9.5
