Oleh: Andi Alief Magalih Putra Syahrir*
Apakah aku bisa menjadi siswa berprestasi di sekolah unggulan ini di tengah banyaknya siswa yang berprestasi? Apakah aku bisa menjadi yang terbaik di antara yang terbaik? Apakah aku bisa menjadi lulusan terbaik 1 di 3 tahun yang akan datang? Apakah aku bisa mengharumkan nama sekolah di tingkat Nasional? Sekelumit pertanyaan yang terus menghantui pikiranku 3 tahun lalu, ketika masa pertama duduk di bangku putih biru.
Sabtu 10 Mei 2023, dalam sebuah perayaan yang menandakan berakhirnya masa putih biru. Bertempat di Aula Triple 8 Riverside Resort, seluruh siswa(i) SMPN 1 Watansoppeng merayakan masa-masa terakhirnya di SMPN 1 Watansoppeng. Rasa sedih, kekhawatiran, dan sorakan tepuk tangan bergemuruh dan menghiasi aula tempat acara berlangsung.
Aku, seorang pelajar yang memiliki ambisi yang sangat tinggi, pastinya memiliki harapan yang sangat tinggi pula. Aku berharap bisa menjadi Lulusan Terbaik 1, berharap bisa menjadi King angkatan. Semua itu adalah harapanku sejak duduk di bangku kelas 7 SMP. Ya, di masa pertama duduk di bangku SMP yang kemudian menjadi awal dimulainya kisah ini.
Sejak kelas 7 SMP, aku adalah seorang anak yang selalu tidak yakin akan potensi diri sendiri. Aku selalu merasa kurang, merasa tidak percaya diri, dan selalu muncul rasa pesimis yang merasuki bayang-bayang pikiran. Namun, seiring berjalannya waktu, hal itu justru menjadi pemantik bagi aku untuk selalu menjadi lebih, menjadi yang terbaik ditambah lagi dengan banyaknya dukungan serta afirmasi positif dari para keluarga, sahabat, dan guru-guru di sekolah.
Melihat prestasi-prestasi yang dimiliki oleh para alumni, melihat banyaknya piala yang berjejeran ketika memasuki area sekolah, kakak kelas yang diberi penghargaan ketika berprestasi, menjadi pemantik bagi aku untuk terus bersemangat meraih prestasi seperti mereka.
Masa duduk di bangku kelas 7 SMP diawali dengan pandemi Covid-19. Masa di mana semua menjadi terbatas, ruang gerak terbatas, sekolah pun beralih dari tatap muka secara langsung, menjadi tatap muka melalui layar handphone. Semua proses pembelajaran berlangsung melalui tatap maya/online.
Saat itu aku hanya bisa mengeluh “Bagaimana aku bisa berprestasi kalau situasi seperti ini?”.
Hari-hari dipenuhi dengan rasa ketidakpastian. Hingga tibalah saat aku terpilih menjadi bagian dari suatu Kegiatan bergengsi Nasional, yang diadakan oleh Kementrian Keuangan RI. Dari situlah, aku bertemu dengan ratusan teman dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang yang berbeda, dan pastinya dengan segudang prestasi. Dari situlah juga semangatku selalu berkobar untuk mampu menjadi berprestasi layaknya anak-anak yang berada di Pulau Jawa, Pulau yang menjadi sumbernya anak-anak berprestasi.
Sejak saat itu, namaku mulai bersinar karena telah berhasil mengikuti berbagai perlombaan tingkat Kabupaten, Provinsi, hingga Nasional. Media sosialku dibanjiri dengan ucapan selamat. Aku sudah dikenal luas dengan sebutan “Siswa Berprestasi.”

Hingga tibalah saat yang aku tunggu-tunggu, yaitu hari perayaan kelulusan. Pagi itu, aku beranjak menuju lokasi penamatan dengan perasaan yang penuh akan sejuta harapan. Berbagai sambutan, persembahan, turut menghiasi acara ini. Saat panitia membacakan pengumuman yang pertama yaitu siswa “Berprestasi dan Berdedikasi”, aku merasa sangat bangga, karena dari situlah aku mendapatkan penghargaan sebagai “Student Of The Year“. Namun saat itu saya belum merasa puas, karena masih ada 2 pengumuman selanjutnya.
Lalu, tibalah saat yang ditunggu-tunggu yaitu pengumuman 10 Lulusan Terbaik (10 Peraih nilai US tertinggi). Jantungku berdegup kencang, diiringi dengan doa agar bisa meraih Lulusan Terbaik 1.
“LULUSAN TERBAIK 1 DIRAIH OLEH…. ANDI ALIEF MAGALIH PUTRA SYAHRIR” -ucap ibu guru yang mengumumkan hasil tersebut.

Sontak seisi ruangan dipenuhi dengan tepuk tangan, sorakan, dan rasa bangga. Begitu pun dengan diriku yang sangat bahagia bisa meraih apa yang aku impikan dari dulu. Saat itu aku masih tidak percaya bahwa biodataku terpampang di layar sebagai Lulusan Terbaik 1. Melihat raut wajah orang tua, raut wajah guru yang penuh akan kebahagiaan, membuat saya merasa berat untuk beranjak dari masa Putih Biru.

Beralih ke pengumuman selanjutnya yaitu pengumuman King dan Queen angkatan yang bertugas menjadi Duta Alumni. Aku sebenarnya sedikit pesimis karena pemenangnya dipilih melalui Vote. Namun, aku sangat terkejut ketika namaku ini disebut sebagai peraih King Angkatan dengan meraih perolehan suara terbanyak.

Seluruh pencapaian yang saya tuai saat acara kelulusan itu adalah buah dari segala usaha, keberanian, dan segala kobaran semangat yang selalu aku tanamkan.
Terima kasih atas segala kebaikan Bapak Ibu guru SMPN 1 Watansoppeng, Bapak Kepala Sekolah, dan seluruh warga SMPN 1 Watansoppeng yang membuat masa SMPku yang dulunya dipenuhi akan kekhawatiran, menjadi indah. Segala kebaikan-kebaikan yang aku temui di masa SMP akan aku kenang sepanjang hidupku.
Aku berpesan kepada adik-adik kelas dan para siswa SMP lainnya untuk jangan pernah berhenti menggali segala potensi diri, memanfaatkan segala hal yang ada, dan selalu mencari lingkungan yang sehat. Karena bisa jadi, dari satu hal kecil yang kamu lakukan, akan menjadi hal yang besar di kemudian hari.
Ayo selalu bersemangat muncul ke permukaan dengan potensi yang kalian miliki. Kita adalah calon generasi emas pelanjut tongkat estafet pembangunan bangsa.
*Penulis adalah siswa berprestasi SMP Negeri 1 Watansoppeng
