Oleh: Aisyah Shafira Yunus*
Terima kasih, 2025. Terima kasih atas kebahagiaan dan kesedihan yang aku dapatkan di tahun ini. Alhamdulillah, di tahun 2025 aku lebih banyak merasakan bahagia, meskipun sesekali aku juga menangis saat menghadapi berbagai macam kejutan dan ujian.
Terima kasih atas semua kebahagiaan yang hadir di tahun ini. Semoga tahun depan bisa menjadi lebih baik daripada tahun ini.
Dari bulan Januari hingga November, hari-hariku dipenuhi rasa lelah dan bahagia yang berjalan berdampingan. Namun, di bulan Desember, perasaanku terasa campur aduk: sedih, capek, pusing, rindu, dan bahagia menjadi satu. Di bulan ini, aku sering begadang.
Semuanya dimulai saat sepupuku berangkat ke Mesir. Aku sangat sedih, tetapi di sisi lain aku juga bahagia karena mereka bisa melanjutkan kuliah di luar negeri. Beberapa hari terakhir, rasa rindu itu semakin terasa. Setiap hari kami hanya bisa saling mengirim pesan satu sama lain.
Di malam hari, aku sering terbangun di tengah malam. Saat terbangun, aku membalas pesan dari sepupuku di Mesir. Terkadang ia bertanya kepadaku,
“Kenapa bangun? Bukannya tadi sudah tidur? Kok bangun lagi?”
Sering kali aku tidak bisa menjelaskan apa yang membuat mataku tetap terjaga.
Lalu ia berkata,
“Tidur, ya. Di sana sudah malam sekali, sedangkan di sini baru selesai salat Magrib. Kamu tidak ingat tahun lalu kamu dirawat di rumah sakit karena sering begadang?”
Aku senang saat ia mengkhawatirkanku, tetapi di saat yang sama aku juga merasa sedih, karena aku dan sepupuku baru bisa bertemu lagi empat tahun ke depan.
Namun, Alhamdulillah, tahun ini tetap penuh dengan kebahagiaan. Walaupun masih ada rasa sedih dan lelah, aku tetap bersyukur karena kebahagiaan lebih banyak mengisi hari-hariku.
Semoga di tahun depan, kebahagiaan semakin bertambah. Semoga rasa sedih dan lelah bisa berkurang. Mungkin rasa rindu akan tetap ada, tetapi semoga tidak lagi membuat air mata ini mengalir.
Watansoppeng, 23 Desember 2025
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng, Kelas 8.4
