Darwis, seorang pria asal kampung Tanah Ugi, kini tengah merantau untuk bekerja di kota. Gajinya lumayan untuk pekerjaan yang menguras tenaga, dengan berjam-jam duduk di depan komputer. Ketika hari libur tiba, Darwis mendapat telepon dari ibunya di kampung. Sang ibu memintanya pulang untuk menghadiri acara pernikahan di kampung, itung itung liburan. Darwis langsung menolak dengan berbagai alasan, namun ibunya tetap bersikeras. Darwis menutup telepon itu, bahkan hampir membantingnya ke lantai.

Umpatan demi umpatan dilontarkan. Darwis sangat benci dengan orang-orang di kampungnya. Menurutnya, orang-orang kampung itu ketinggalan zaman, sulit diajak bergaul karena ia merasa tidak sefrekuensi dengan mereka. Ia benci melihat suasana kampung yang terkesan tertinggal dalam segi modernitas.

Dengan muka masam dan hati yang penuh umpatan, Darwis mengemas pakaian dan peralatan yang akan ia perlukan untuk pulang kampung. Perjalanan menuju kampung ditempuh dengan mobil yang masih dicicil per-bulan. Sambil mengemudi, Darwis masih saja mengomel. Omelannya berubah menjadi prasangka, menuduh orang-orang di kampungnya akan menganggapnya sombong karena datang dengan mobil yang belum dimiliki oleh orang-orang kampungnya.

Hatinya mulai gelisah. Ia hampir tiba di kampung. Dari jauh, kampung Tanah Ugi terlihat sibuk. Begitu Darwis berhenti di halaman rumahnya, orang-orang berhenti dari kegiatan mereka, terlihat bertanya-tanya siapa yang datang dengan mobil itu. Ibu Darwis maju menerobos kerumunan, meneriaki Darwis dengan sebutan “Anakku!” Darwis merasa sangat malu, karena menjadi pusat perhatian. Koper-kopernya dibantu dibawakan oleh bapak-bapak tetangga. Meski enggan, Darwis harus berpura-pura ramah ketika orang-orang mulai menanyakan ini-itu.

Sinar matahari mulai meredup, memantul lembut di permukaan sawah. Segera, Darwis mengambil wudhu ketika suara adzan Maghrib berkumandang. Masih lengkap dengan peci dan sarung di pinggang, Darwis melihat ibunya yang heboh bolak-balik masuk dan keluar rumah.

“Indo, loki je maga?” tanya Darwis.

“Aseng, nak lau botting Ancu, jokka jolo mu akka yaro manu ku monri,” jawab ibunya yang sedang berjalan keluar rumah sambil mengangkat sebaskom daging ayam yang siap diolah.

“Jokka tegi, indo?” tanya Darwis kembali, namun ibunya terlanjur pergi.

Dengan terpaksa, Darwis menuruti perintah ibunya. Melihat salah satu rumah tetangga yang ramai sekali, Darwis yakin ibunya ada di sana. Setelahnya, Darwis berniat untuk buru-buru kembali ke rumah, namun langkahnya tertahan karena Faisal, teman sewaktu kecilnya, memanggilnya.

“Darwis! muddani ka, magi nappiko lisu?” kalimat pembuka yang menahan Darwis berjam-jam malam itu.

Darwis baru kembali ke rumah tengah malam. Gara-gara Faisal, Darwis harus ikut membantu persiapan pesta, belum lagi dilakukan bersama orang-orang yang menurutnya menyebalkan. Darwis ingat sekali, ibu-ibu tetangga bergosip di belakangnya. Katanya, Darwis itu durhaka, sombong, pemalas. Baru ingin masuk ke kamar, ibu Darwis angkat bicara.

“Darwis, jokka ko je nak ewai mabbicara taue, afa iya’ nak masiri mangkalinga bicarana taue,” kata ibunya dengan raut sendu.

Darwis tak menjawab, ia pergi dan menutup pintu kamarnya.Pagi-pagi buta, para tetangga sudah ribut. Darwis mengintip dari balik jendela. Menyebalkan, kenapa orang-orang rela bangun subuh hanya untuk membantu dua orang yang akan bersanding di pelaminan itu? Sekitar pukul 08.00 pagi, musik khas pengantin sudah menggetarkan jendela kaca di rumahnya.

Darwis ingin melalui hari ini dengan tenang. Namun justru hari ini menjadi penyebab esok ia akan kembali ke kota. Darwis justru melewati perdebatan dengan ibu-ibu tetangga, karena tidak rela dirinya terus-terusan dihina. Darwis bahkan menyumpahi orang-orang di kampungnya.

Malam itu, Hasnah, ibu Darwis, menangis, kecewa pada anaknya. “Degaga guna na magello jamang mu, engka duimu, ku maja ampemu, nak.” Darwis lagi-lagi hanya terdiam, tidak tahu menyesal atau tidak. Sebelum berpamitan tidur, Darwis mengatakan pada ibunya bahwa besok ia akan kembali ke kota.

Syukurnya, adzan Subuh masih membangunkan hati tuli Darwis. Selesai berwudhu, Darwis mengecek ibunya di kamar. Biasanya ibu sudah bangun jam segini. Dicobanya untuk membangunkan, namun perasaannya mengatakan bahwa ibunya telah wafat.

Darwis pontang-panting meminta bantuan tetangga. Tak butuh waktu lama, rumah Darwis dikerumuni warga sekitar. Sebelum waktu Subuh habis, Darwis kembali mengambil wudhu dan shalat Subuh. Tubuhnya masih kaku dan terkejut. Air mata dalam sujudnya mengguncang hati dan pikirannya. Ruku’nya gemetar tak karuan. Doanya bercampur isakan tangis pilu.

Jenazah Ibu Darwis diangkat dengan hati-hati ke dalam keranda mayat setelah disembahyangkan di masjid. Wajahnya pucat lesu, tubuhnya lemas, dan langkahnya terasa begitu berat, Darwis tetap berusaha mengantarkan jenazah ibunya ke liang lahat. Darwis berdiri di tepi kuburan, melihat jenazah ibunya perlahan diturunkan kedalam liang lahat. Faisal dan para tetangga mencoba merangkulnya dengan penuh duka.

Darwis kembali ke rumah dengan langkah yang berat, kehampaan menggeluti hatinya. Faisal masih setia di sampingnya, khawatir dengan sahabatnya. Jujur saja, ia merasa lebih baik dengan Faisal di dekatnya.Di dalam hati yang rapuh, Darwis merasakan sesal mendalam. Ia merasa bersalah atas sikap sombongnya terhadap para tetangga, bahkan sahabatnya. Di saat-saat kesedihannya seperti ini, mereka justru hadir untuk mengobati kesedihan nya.

Malu rasanya, ketika ia teringat bagaimana ia membenci orang-orang di kampungnya dengan alasan yang konyol. Adzan Magrib berkumandang, namun Darwis masih terbaring lemah di kasurnya, tak mampu bangkit untuk mendirikan shalat. Matanya masih menitikkan setetes demi setetes air mata penyesalan. Di atas meja, album foto terbuka lebar, menampilkan foto foto masa lalu, dipenuhi potret dirinya di Tanah Ugi. Kini, ia hanya bisa merindukan masa-masa itu dengan penuh sesal.

(Visited 21 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *