Oleh: Aisyah Shafira Yunus*
Bab 1: Awal yang Baru
Hai, namaku Alara Keana Alexander, panggil saja Alara. Aku memutuskan untuk berpura-pura menjadi gadis culun di sekolah baru untuk melihat siapa yang benar-benar tulus berteman denganku. Sebagai anak dari seorang CEO sekaligus bos mafia, hidupku penuh dengan kemewahan, tapi aku mendambakan kejujuran.
Aku pindah dari sekolah elite Bina Bangsa ke Alexandra School karena di sekolah lamaku, aku tidak menemukan teman yang benar-benar tulus. Biasanya aku ke sekolah dengan mobil Lamborghini hadiah ulang tahun dari Papa yang harganya 14,5 miliar. Tapi kali ini, aku ingin tampil berbeda: aku bersepeda ke sekolah.
Bab 2: Pertemuan Pertama
Sesampainya di sekolah, aku memperkenalkan diri.
“Hai, semuanya. Namaku Alara Keana Alexander. Panggil saja Alara,” sapaku ramah.
Maura, salah satu murid di sana, menatapku dengan sinis.
“Oh, ini anak baru? Culun amat. Kenalin, gue Maura Ayunda. Bokap gue anggota mafia, jadi jangan macem-macem sama gue,” katanya sambil mendelik.
Alvaro, murid lainnya, menyela, “Alara, kamu duduk di sampingku saja. Kebetulan bangkunya kosong.”
Aku mengangguk dan duduk di sampingnya.
Bab 3: Awal Persahabatan
Saat jam istirahat, Alvaro mengajakku ke kantin. Kami memesan nasi goreng dan jus jeruk. Aku makan dengan lahap, membuat Alvaro tersenyum.
“Kamu suka makanannya?” tanyanya.
“Sangat suka! Ini makanan favoritku,” jawabku.
“Aku juga! Kita sama, ya,” sahut Alvaro. Kami tertawa bersama.
Namun, tiba-tiba Maura dan teman-temannya datang. Dia menarik rambutku dan menamparku.
“Murid culun caper lagi,” ejek Maura.
Alvaro segera mendorong Maura menjauh dan membawaku pergi dari situ.
Bab 4: Rahasia yang Terbongkar
Saat pulang ke rumah, Papa menyadari ada bekas luka di pipiku.
“Sayang, pipimu kenapa?” tanya Papa khawatir sambil memegang pipiku.
“Oh, tadi aku kesandung terus kena meja, Pa,” jawabku sambil tersenyum kecil.
“Astaga, lain kali hati-hati, ya,” pesan Papa. Aku hanya mengangguk.
Bab 5: Hari Ulang Tahun
Enam bulan berlalu. Hari ulang tahunku tiba, bertepatan dengan pertemuan anggota mafia yang dipimpin Papa. Aku mengundang Alvaro ke pestaku.
“Alvaro, nanti datang ke pesta ulang tahunku, ya. Aku jemput kamu di depan kafe ini. Jangan lupa pakai baju yang aku kasih,” pintaku.
“Pasti. Terima kasih, Alara,” jawab Alvaro.
Sopir pribadiku menjemput Alvaro, dan kami langsung menuju rumahku.
“Ini rumah atau istana? Besar sekali,” gumam Alvaro terkejut.
Aku tersenyum. “Alvaro, maukah kamu jadi pacarku?” tanyaku tiba-tiba.
Alvaro terdiam sejenak, lalu berkata, “Ehm, sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu.”
Kami pun resmi berpacaran.
Bab 6: Konfrontasi
Di pesta, Maura datang dengan wajah terkejut melihatku.
“Si culun kok ada di sini?” tanyanya sinis. Dia menamparku dan mendorongku ke kolam renang. Alvaro segera melompat untuk menolongku.
Papa yang melihat kejadian itu langsung marah.
“Apa-apaan ini?!” bentak Papa.
“Ah, nggak usah dipeduliin, Om. Usir aja si culun itu. Yuk, lanjut party,” sahut Maura santai.
Papa balas dengan tegas, “Kamu dan ayahmu yang akan saya usir. Mulai sekarang, ayahmu saya keluarkan dari anggota mafia.”
Maura terdiam, wajahnya pucat.
Bab 7: Akhir yang Baru
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, aku kembali ke sekolah dengan gaya asliku sebagai anak CEO dan bos mafia. Alvaro selalu menjagaku.
Maura, yang merasa bersalah, memohon maaf.
“Alara, maafin gue, ya. Gue kira lo cuma anak culun, ternyata lo anak bos bokap gue. Please, jangan pecat bokap gue. Gue nggak bisa shopping lagi,” katanya memelas.
Aku menatapnya dingin. “Gue maafin lo, tapi bokap lo tetap nggak bisa jadi anggota mafia lagi.”
“Kok gitu sih?!” bentaknya dengan nada tinggi.
Aku mendekat. “Mau ngelawan atau mau tampar gue lagi? Terserah lo,” kataku dengan nada tajam.
Alvaro menambahkan, “Makanya, Maura, jadi orang jangan suka ngebully. Ingat, di atas langit masih ada langit.”
Aku menyenggol pundaknya hingga dia jatuh, lalu berjalan pergi bersama Alvaro sambil tertawa. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng
