Oleh: A. Zahwa Zahirah Said*

Entah mengapa, sorot mataku selalu menemukannya lebih dahulu di antara kerumunan orang. Keberadaannya adalah yang paling benderang; seolah di saat aku melihatnya, ada rasa yang tumbuh dengan sendirinya tanpa sempat aku cegah. Mataku menemukannya seperti menemukan cahaya yang diam-diam kukagumi, meski sadar tak bisa kumiliki.

Mungkin, sorot mata ini akan selalu tertuju padanya. Bukan untuk mengejar, melainkan untuk mengagumi dari jarak yang paling aman. Aku sedang belajar menerima bahwa tidak semua rasa harus menjelma menjadi kata, dan tidak semua debar harus bermuara pada sapa.

Ia mungkin tidak pernah menyadari bahwa sepasang mata ini kerap mencarinya di berbagai sudut ruang. Namun, bagiku itu bukan masalah. Mengaguminya dalam diam sudah terasa cukup. Sebab aku percaya, tidak semua perasaan harus sampai ke pemiliknya; ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk sekadar hidup sebentar di dalam sorot mata seseorang, lalu abadi dalam ingatan.

Watansoppeng, 16 Januari 2026

*Penulis adalah Siswi SMPN 1 Watansoppeng kelas 9.5

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *