Oleh: Madeline Cinta Fitriadi
Ujung lampu sorot yang berperan besar dikala gelap. Meskipun redup dan tak sepenuhnya menyinari ruangan, tetapi sanggup menjadi yang paling dibutuhkan ketika kelam menghampiri. Remang dari sudut ruangan memberikan kesan hangat untuk perbincangan kali ini. Aku kembali, membawa kisah yang cukup panjang untuk diceritakan. Berteman secangkir teh hangat dan beberapa keping roti kering, tepi kota berangkat membuka jalan menuju gerbang nostalgia yang belum bertajuk.
Bicara tentang orang tua, tak bisa terlalu dipanjangkan alurnya. Sudut pandang orang pertama tak cukup kuat untuk menjadikan topik ini sebagai bahan pembicaraan yang terlalu dalam. “Kami masih anak-anak, sedangkan mereka sudah melalui”. Tidak wajar rasanya kalau kami terkesan menghakimi, padahal niatnya tidak begitu. Mereka ingin yang terbaik, tentu. Berbagai macam cara, beragam cerita , dan berlalu lalang perjalanan sudah mereka lalui sampai bisa mengajarkan kami arti kehidupan dalam pandangan mereka.
Berkelana saja, tidak apa apa. Tapi jangan lupa jalan pulang. Sejauh apapun langkah membawamu pergi, jangan lupakan rumah sebagai tempat kembali. Wajah lelah yang pandangannya mulai kabur, tetapi masih menanti kehadiranmu diujung pandangannya. Tangan kasar tanda ia berusaha, masih sanggup ia buka untuk menyambut hangatmu dalam dekapannya. Lihat ia termenung didepan teras, raga di latar tetapi pikiran entah kemana.
Ada pula yang pernah menjadi persinggahan. Entah ia pergi karena lelah, atau terpaksa mengubah arah. Aku sedikit tersinggung, bertanya apakah aku terlalu merepotkan. Yang sudah terjadi tidak bisa persis diulang kembali. Ia mungkin pergi, mungkin juga kembali, tetapi rasanya tentu sudah sama. Tak lagi bisa menaruh semua lelah kepada pundaknya yang rapuh. Entah maaf atau terimakasih yang harus ku ucapkan terlebih dahulu. Jelas tak perlu diungkapkan, ia hebat. Berapa banyak suara yang masuk kedalam pikirannya. Berapa kali ia harus memeluk diri sendiri karena tak ada sandaran. Dan pada akhirnya ia bisa pergi, lega, tetapi meninggalkanku dengan harapan yang semu.
Ada pula yang tak bisa terlalu mencampuri. Ia hadir, namun ada batasan yang perlu ia patuhi. Mungkin bertukar kabar lewat telepon genggam atau bertemu sebentar melepas lelah lewat pelukan. Ada tanggungjawab lain yang perlu ia selesaikan. Bukan membuat masalah, ia hanya berada di jalannya tanpa menghambat jalur orang lain. Tak usah tergesa gesa, katanya. Semua punya waktu dan peristiwa nya masing-masing. Sungguh yang sudah tertakar tidak akan tertukar.
Banyak contoh yang bisa aku ceritakan, tetapi hanya itu yang bisa dituliskan. Menurutku, anak bukanlah investasi orang tua untuk melanjutkan hidup. Melainkan kehidupan baru yang diciptakan untuk mencari jati dirinya sendiri. Biarlah ia berlari, berjalan, atau merangkak meraih sesuatu yang ia sebut masadepan itu. Berikan ia motivasi agar tidak tertinggal. Ajarkan sejalan saat berbuat dan menerima konsekuensi dari apa yang sudah ia lakukan. Ajarkan ia dewasa dan mandiri, sesekali coba jangan ditemani. Bukan perihal ‘menjaga’ dan ‘memperlepas’, tapi menurutku ini adalah tentang bertahan hidup. Biarkan ia sendiri agar tidak bergantung pada orang lain. Ajarkan ia berdiri kokoh di atas kakinya sendiri. Ada resep dan aroma enak yang masih menanti untuk dimakan. Ada pemandangan alam indah yang menanti untuk dinikmati. Dan ada beberapa orang yang menunggu untuk dibahagiakan. Untuk kisah yang sudah dimulai namun belum sampai, jangan lupa istirahat dari perjalanan panjang ini.
